Chapter 34

5.1K 320 5
                                        

“Kamu kalo Mama bilang bawa jas hujan, ya dibawa. Jadi kayak gini kan, kamu tuh gak kuat sama dingin Rama. Ini malah main hujan-hujanan.”

Rama hanya diam mendengarkan omelan Mamanya, percuma juga jika ia menjawabnya. Kemarin dia bermain hingga larut dirumah salah satu sahabatnya, dan kebetulan dia lupa membawa jas hujan. Rama dengan nekat menerobos hujan yang sedang turun deras di malam hari. Dan berakhir, dengan Rama yang demam.

“Kamu ini loh, kalo dibilangin suka ngeyel. Mana hari ini Mama ada janji sama temen lagi. Gak mungkin kan Mama ninggalin kamu.”

“Mama pergi aja, Rama gak papa kok.” ucap Rama pelan, ia hanya mempunyai sedikit tenaga. Tubuhnya lemas tidak bertenaga.

“Apa Mama telepon temen kamu aja ya, biar ada yang jagain kamu?” tanya Mama yang menatap wajah pucat Rama. Sebagai seorang Ibu, ia tidak tega meninggalkan anaknya dalam keadaan sakit. Tapi ia juga tidak enak untuk menolak ajakan temannya, karena ia sudah beberapa kali menolaknya.

“Enggak usah, mereka juga lagi sekolah.” ucap Rama, ia tidak mau merepotkan ketiga sahabatnya itu.

“Yaudah, Mama pergi ya. Jangan lupa makan, itu obatnya di minum.” seorang Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya dalam keadaan sakit. Walaupun Rama bilang tidak usah menghubungi temannya, tetapi Mama tetap menghubungi salah satu dari ketiga sahabat Rama.

o0o

Raka mematikan mesin motornya setelah sampai di halaman sekolah. Ia melepaskan helm nya dan menyimpannya.

Suara nada dering di handphone nya berbunyi. Raka melihat si penelpon. Tanpa pikir panjang, Raka langsung mengangkatnya.

“Hallo,”

“Hallo, Raka. Bisa bantuin tante gak?”

“Bantuin apa ya?”

“Kamu ada di sekolah kan? Bisa minta tolong, tante mau ngomong ke Sinta tapi tante gak punya nomornya Sinta, mau minta ke Rama juga dia lagi istirahat.”

Raka mengernyitkan dahinya, “Rama gak sekolah?”

“Enggak, Rama sakit. Ntar kamu ijinin ya, oh ya boleh gak nih tante ngomong sama Sinta.”

“Bentar,” Raka menjauhkan handphone nya dari telinga. Dirinya melihat Sinta yang baru saja memasuki gerbang sekolah.

“Sinta,” panggilnya.

Sinta melihat Raka dan menghampirinya. “Ada apa?”

Raka tidak menjawabnya, ia memberikan handphone miliknya kepada Sinta.

Sinta mengangkat alisnya, bingung. Namun, ia tetap menerima handphone itu, dan mendekatkan ke telingannya. Sinta tadi melihat dari gerakan mulut Raka, yang mengatakan suruh dia menjawabnya.

“Hallo,”

“Sinta? Tante minta tolong ke kamu ya,”

“Apa tante?”

“Rama, dia sedang sakit. Nah kebetulan tante ada urusan, tante gak tau harus minta bantuan ke siapa lagi. Di rumah lagi sepi, gak ada pembantu. Dan Rama itu, kalo sakit rada susah buat di suruh minum obat. Tante juga gak enak kalo selalu nolak ajakan temen tante. Kamu mau kan jagain Rama. Sehari ini aja? Kamu titip absen ke teman mu aja. Mau ya, Sinta?” Mama bertanya dengan penuh harap.

“Emm... Gimana ya, tante.”

“Please,,” ucap Mama dengan nada yang dibuat semelas mungkin.

Sinta menghembuskan nafasnya, “Oke, tante, Sinta ke sana.”

“Makasih banget loh, makasih.” Mama pun langsung memutuskan panggilannya setelah Sinta membalas ucapan terima kasih nya.

The Ugly (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang