28. My Everything (Selaras)

392 62 25
                                        

yuk, oleng ke pak wasesa.

✨✨

Jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul sembilan pagi. Aku sampai di sini sejak setengah jam yang lalu. Suasana kantin di jurusanku ternyata tidak terlalu ramai. Ya, tidak mengherankan karena saat ini masih di fase kuliah online. Aku tidak tahu kapan virus dari China itu akan kembali pulang ke negaranya. Tolong lah, tidak bisakah virus-virus itu hanya liburan saja?

Tolong, jangan menetap dan membuat banyak orang kesulitan. Kalau bisa, enyah dari dunia!

Sejauh ini, aku masih bisa menghadapinya dengan baik. Mungkin beberapa kali kesal dan mengumpati keadaan, tapi yang namanya hidup memang harus dihadapi, kan?

Ibuk pernah bilang, hidup itu hanya perlu dijalani. Yang sulit hari ini, pada akhirnya akan terlewati dan hanya akan menjadi memori di hari nanti.

Suatu hari nanti, aku akan duduk manis di teras rumahku sembari meminum secangkir teh. Mas Bumi juga ada di sana, duduk di sebelahku dengan kemeja kerja kusut karena dia baru pulang kantor. Lalu, Mas Bumi akan tersenyum dan bilang, Wah, dulu ada virus corona di tahun 2020, ya, Sayang? Ini bakal seru kalau diceritakan ke anak-anak. Sementara itu, aku akan manggut-manggut dengan gembira dan merespon, Iya, bakal seru! Tunggu anak-anak pulang pramuka dulu. Kamu enggak mau mandi, Mas? Aku udah siapin air hangat, lho.

Ah, indahnya dunia fantasi ini.

Sembari menunggu seseorang datang, aku sempat membeli roti dari minimarket terdekat. Kantinnya tutup, jadi tidak ada yang berjualan. Hanya ada tiga orang duduk di kantin, salah satunya aku. Mereka sepertinya hanya mau menumpang sambungan wifi, karena keduanya tampak fokus menatap layar laptop mereka. Dunia menjadi sangat hening, terkadang begitu menakutkan.

Aku mengunyah roti sambil memandangi dua penghuni kantin lain. Tampaknya, mereka tak terlalu tertarik denganku. Tidak seperti kemarin, di mana aku menjadi pusat atensi karena duduk bersebelahan dengan Pak Wasesa. Kali ini, situasinya lebih nyaman. Aku bisa melakukan apa saja tanpa takut diamati. Jadi, aku pun mengusap noda lipstik yang menempel di gigi dengan bantuan casing ponselku yang ditempeli cermin kecil berbentuk lingkaran.

Aku menghela napas panjang setelah merasa noda itu lenyap dari gigiku, kemudian kembali melihat jam tangan di pergelangan tanganku. Ini sudah lewat sepuluh menit, tapi lelaki itu tak kunjung muncul batang hidungnya. Berapa lama lagi dia akan membuatku menunggu di sini dalam keheningan? Ternyata, keheningan tak selamanya menenangkan. Aku mulai muak.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk bermain ponsel saja. Ada banyak pesan yang mesti kubalas karena aku masih menjadi pengganti Andra, si Ketua Angkatan. Kuharap dia segera sembuh, kemudian mengambil-alih perannya kembali. Tanggung-jawab besar tak cocok diberikan kepadaku, Kawan-kawan. Tanggung-jawab atas diriku sendiri saja masih suka berantakan, apalagi tanggung-jawab yang melibatkan banyak orang.

Ada sekitar 200 mahasiswa di angkatanku sekarang. Dulunya 203 orang, tapi tiga orang tersebut—dua laki-laki dan satu perempuan—memilih mengikuti ujian PKN STAN dan akhirnya drop out karena lulus di tempat impian mereka itu.

Terkadang aku suka berandai-andai, seandainya aku juga mengikuti langkah mereka bertiga, maka aku akan meninggalkan Jogja dan berpisah dari Mas Bumi.

Fantasi buruk harus segera dimusnahkan! Tidak, tidak! Aku tidak akan meninggalkan Jogja dan membiarkan Mas Bumi hidup dalam kehampaan. Dia kan sudah tak punya siapa-siapa. Mamanya memilih fokus berkarir untuk mencapai jabatan sebagai Kepala Sekolah, sedangkan papanya fokus dengan istri barunya yang katanya sudah hamil muda. Cepat juga hamilnya. Wow, apakah mereka melakukan 'itu' hampir setiap hari? Wajar sih, kan masih pengantin baru. Tapi, bukannya bagusnya sekali dua hari? Aduh! Apa yang mengisi pikiranku, sih? Itu bukan ranahku untuk berkomentar.

BUMI & EVAKUASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang