**
Malam ini, Kulonprogo sedikit lebih dingin daripada biasanya. Aku menyandarkan kepalaku di pundak Mas Hazen. Jujur saja, masih sedikit lucu bagiku harus bangun tidur di sisinya setiap lagi. Dan juga, menghadapi godaan-godaan usilnya setiap malam sembari menggelitik perutku yang dihiasi bekas operasi caesar pasca melahirkan Heaven.
“Cuacanya kayak di California, ya?” Lagi dan lagi, celotehan Mas Hazen yang tidak masuk di akal. Aku mencubit perutnya pelan sampai dia terkekeh renyah. Lalu, “Kamu pengin honeymoon lagi gak? Kayaknya, Heaven butuh adik, sih. Dia mulai rewel.”
Aku mendengus. “Gak usah ngaco, deh!”
“Lho, kenapa?”
“Heaven rewel karena digangguin kamu, Mas,” jelasku. “Kamu suka ngusilin anak sendiri. Mana tadi dia nangis karena harus ditinggal Violet pulang.”
Setelah acara resepsi tadi, sebenarnya kami sekeluarga masih punya acara bincang-bincang sembari makan malam. Sayangnya, Mas Putera dan Kak Audissa harus bergegas kembali ke Bandung sebab ada urusan pekerjaan. Tadi sore, mereka lantas juga membawa Violet bersama mereka karena tampaknya tidak memungkinkan meninggalkan gadis kecil itu di sini. Violet jauh lebih rewel kalau berjauhan dengan ibunya. Dibanding Heaven, Violet jauh lebih sering menangis. Lucu juga, ya? Padahal yang dulunya kubawa berlarian sembari menangis adalah Heavenina. Dia berada di dalam perutku dengan segala masalah yang berantakan. Tapi, tentu, itu bukan salahnya.
Itu salahku.
Aku yang tidak bisa mengajaknya duduk manis di rumah sembari makan buah, justru membawa dia berjuang ke penjara. Berapa kali aku bolak-balik penjara sambil menahan kesal sebab ayah kandungnya tak bisa diajak kerjasama? Ya, walaupun pada akhirnya aku tahu, Mas Bumi hanya tak ingin menyusahkan aku. Dia ingin bekerja sendirian—tanpa aku, tanpa anak kita.
Dia ingin menebus kesalahannya, jadi dia banting-tulang tanpa mengindahkan bantuan yang aku tawarkan. Diam-diam bertukar posisi dengan Rakaryan, berkelana di luar sana sebagai manusia ilegal.
Omong-omong, Rakaryan juga sudah kembali ke hotel setelah menghabiskan dua piring nasi di acara resepsi tadi. Katanya, dia sangat lapar sebab langsung ke sini begitu pesawatnya landing.
Rakaryan bekerja di Italia, di sebuah kota yang tak ingin dia bagi padaku. Namun, saat pertama kali menginjakan kaki di sana, dia pernah mengirim foto matahari terbenam yang cantik dari atas gedung tinggi. Itu adalah foto pertama dan terakhirnya, sampai dia menghilang dan tak pernah membaca surat-surat yang kukirim.
Seiring waktu berjalan, sejak kepergian Rakabuming Jaelani Pranadipa, kami kembali mencoba menata ulang puing-puing yang sudah usang. Kami semua mencoba menemukan kembali alasan untuk bersenang-senang. Entah itu bunga yang bermekaran, langit biru yang terbentang, atau lampu-lampu jalan yang benderang.
Semuanya indah.
Semuanya sederhana dan bermakna.
Setelah kepergian Rakabuming hari itu, pisah-pisau kecil menancap di dada kami. Realita yang berkali-kali berbohong, realita yang ingin kulempari batu. Bagaimana bisa takdir membawanya pergi dalam kesendirian?
Tiga tahun lalu, aku mendapat telepon dari Mas Putera. Waktu Los Angeles masih terlelap dalam tidurnya, waktu aku bahkan kesulitan membuka mata. Di ujung sana, lebih tepatnya di Jakarta—sebab Rakabuming dipindahkan ke kota ramai itu, Mas Putera menjatuhkan kalimat yang tak ingin kuingat lagi.
Dia udah meninggal, Gizka.
Kalimat paling tahi, kalimat paling najis. Aku terduduk di atas lantai marmer kamarku, mencoba memeluk diri sendiri. Suara Mas Putera bergetar, terdengar juga tak karuan. Dia bilang, “Maaf, baru bisa ngabarin kamu. Sebenarnya selama sebulan ini Bumi sering ngeluh sakit perut dan kita kira dia cuma maag. Ternyata dia kena asam lambung akut, juga pengaruh stress. Dia masih sembunyi, Gizka. Dia masih sembunyi. Dia masih belum jujur sama perasaannya. Bahkan, Dokter Juanda gak bisa apa-apa karena... Bumi yang memilih buat menyakiti dirinya dengan terus-menerus merasa bersalah. Dia gak bisa memaafkan dirinya sendiri.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfiction[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
