07. I Didn't See You Coming

731 109 9
                                        

✨✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✨✨

Ini sudah seminggu, Megantara menghabiskan waktunya di rumah sakit. Aku juga tidak paham kenapa dia membutuhkan waktu lama di rumah sakit. Mungkin, karena dia hanya mau membuang uang. Dia tampak tidak cemas sama sekali selama di rumah sakit. Apalagi, dia dipindahkan ke kamar kelas satu yang fasilitasnya mirip hotel. Aku pun jadi ikutan betah. Dokter tadi bilang, kalau dia diizinkan untuk pulang besok siang.

Orang tuanya Megantara tidak bisa menjaganya dalam jarak dekat karena mereka sedang mengikuti pertemuan di Jedah--sudah kuduga. Namun, ada rencana untuk mengirim Megantara ke luar negeri supaya penyembuhannya lebih cepat. Apakah ada teknologi seperti itu? Aku tidak tahu. Yang jelas, kalau ada yang bisa menyembuhkan Megantara, ya aku akan mendukungnya. Kata dokter, kaki Megantara memang tidak terlalu parah. Bukan jenis luka yang merepotkan. Hanya terkilir.

Omong-omong, aku ingat kalau papanya Megantara berprofesi sebagai diplomat, dan ternyata mamanya juga bekerja di kementerian luar negeri. Tidak perlu bertanya lebih jelasnya, tapi aku sekarang benar-benar percaya apa alasan Megantara bisa masuk kelas akselerasi. Gennya bagus, jadi kemampuan otaknya pun di atas rata-rata.

Bisa-bisanya aku baru menyadari itu? Padahal aku sudah mengenal dia hampir empat tahun. Selama ini dia memang tidak pernah mengulang mata kuliah. IPK-nya juga nyaris sempurna. Yang lebih keren lagi, dia hanya belajar saat matahari masih di atas kepala. Begitu langit dikuasai bintang, dia hanya akan menonton anime atau main PUBG sampai tengah malam kalau tidak ada tugas. Ada mahasiswa sesantai dia? Ya, ada! Aku saksinya!

Malam hari tidak pernah menjadi waktu produktif untuk dia. Ya, mungkin karena dia tahu kemampuan otaknya itu. Dia tidak khawatir sama sekali hanya belajar di siang hari. Aku jadi skeptis, jangan-jangan dia juga bisa dapat poin sempurna walaupun tidak belajar sama sekali? Lain kali, aku mungkin harus menjebaknya. Tapi, kapan?

Aku yang selalu menjaga Megantara. Sesekali ada teman kosnya datang menjenguk, tapi mereka tidak ada yang menginap. Aku sendirian. Angga sempat menemaniku, tapi dia pamit pulang jam sebelas malam. Alasannya, dia tidak tahan dengan bau rumah sakit. Aku tidak mau ambil pusing, karena fokusku hanya untuk kesembuhan Megantara.

Sebenarnya aku harus berdebat dulu dengan Mas Bumi. Tentunya, dia tidak mengizinkanku untuk menginap. Hari pertama masih diberi izin, tapi hari-hari selanjutnya seperti dilempar bom. Aku diomeli habis-habisan. Dia bilang, tidak ada gunanya menginap. Aku juga tidak akan bisa menyembuhkan Megantara. Namun, aku bertahan di sini karena diberi amanat oleh orang tuanya Megantara. Selain itu, aku rela tidur di sofa demi nama persahabatan.

Dulu sewaktu aku belum berpacaran dengan Mas Bumi, Megantara adalah satu-satunya orang yang menjagaku. Dia mau direpotkan, saat aku demam jam dua pagi. Dia juga mau jauh-jauh menjemputku saat hujan badai. Yang akhirnya, kami berdua terkena flu dan pergi ke rumah sakit bersama. Duniaku hanya berputar di sekitar Megantara, karena Mas Bumi masih bau-bau tersangka pemberi harapan palsu kala itu.

BUMI & EVAKUASICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang