🔞
✨✨
Masih Maret 2020
Ada yang berbeda. Ada yang berubah. Ada yang asing. Ada yang tidak bisa kupahami. Ada yang masih mengganjal di pikiran. Ada amarah yang kupendam.
Aku berusaha keras untuk tidak terlihat kurang nyaman di hadapan teman-teman Mas Bumi yang semuanya kukenal dengan baik. Ya, aku mengenal mereka semua dan begitu pula sebaliknya. Mereka adalah teman satu angkatan Mas Bumi, yang lulusnya juga bersamaan. Para senior tampan dan berotak brilian. Dulu aku begitu mengagumi mereka, memuji tiap kali mereka memberiku banyak wawasan baru. Namun, aku tidak tahu kalau circle Mas Bumi yang tampak wangi itu, ternyata hanya sekumpulan manusia yang pandai bersandiwara.
Aku masih melongo tak mengerti sembari menatap mereka satu per satu. Gelas demi gelas yang terisi berbagai jenis alkohol. Ada bir, wine mahal asli Perancis, dan... vodka. Hanya itu yang kutahu, tapi mungkin ada yang lainnya. Meja bundar di depanku begitu penuh.
Mas Mischa menyenggol lenganku, kemudian berbisik, "Lo serius mau di sini sampai subuh? Kalau lo nungguin bubar, kita mah masih lama. Bahkan, mungkin sampai besok pagi. Lagian, matahari enggak masuk sampai ke sini."
Mereka menyewa sebuah tempat karaoke VIP, di mana ruangannya begitu private dan terjaga ketat. Meja bundar yang berada tepat di tengah-tengah ruangan, kemudian dikelilingi oleh sofa-sofa empuk berwarna merah bata. Sudah dapat ditebak, mereka mengeluarkan uang yang tak sedikit. Sejauh mata memandang, yang kulihat adalah botol-botol alkohol yang berantakan di atas meja.
Aku hanya tersenyum tipis. "Nanti gue pulang kalau udah capek, Mas. Lanjutin aja."
Mas Mischa mengangguk, sembari menggoyangkan segelas bir di tangannya. Dia meneguk bir yang ditambahi beberapa potong es batu dan menambahkan, "Yaaa, udah. Duduk baik-baik di sini, Giz. Kalau ada yang macem-macem, langsung teriak. Pacar lo masih sadar, lo enggak mungkin dilepas gitu aja."
Aku sekali lagi hanya menyunggingkan senyum tipis, kemudian menyapukan penglihatanku ke seluruh ruangan. Teman-teman perempuan Mas Bumi memakai gaun-gaun seksi yang kelewat pendek, sedangkan teman-teman lelakinya hanya memakai kemeja biasa yang terbuka kancingnya di bagian atas. Ya, suasana di ruangan bawah tanah ini cukup gerah.
Bisa dibilang, aku adalah satu-satunya orang yang tidak minum alkohol dan juga tidak ikut-ikutan joget di depan sana. Aku hanya duduk diam di salah satu sofa, yang menghadap sebuah meja berisi bungkusan rokok. Untungnya, Mas Bumi memesankan jus jeruk tadi untukku. Dia tahu kalau aku tidak mungkin mau minum alkohol sekarang. Tidak ingin mabuk. Aku ikut untuk melindunginya, takut kalau dia mabuk berat dan melakukan sebuah kesalahan besar.
Sejak kejadian hari itu, aku jadi panik sendiri. Kalaupun dia tidak tidur dengan istri orang, dia bisa saja tidur dengan perempuan lain. Ada banyak celah yang terlalu terbuka untuk orang asing memasuki hubungan kami. Mas Bumi merobohkan pagarnya sendiri, yang kemudian membuatku jadi gila begini.
Sejak dia kembali dari Depok dengan alasan menjaga ibunya yang terkena demam--beruntung bukan terjangkit virus itu meskipun dia sempat khawatir sekali sebelum pulang ke sana, dia memang banyak berubah. Dia lebih asing dari sebelumnya padahal kami sudah berkencan untuk waktu yang lama. Aku seperti kesulitan untuk memahami isi kepalanya sekarang. Ada rasa yang membuatku terkunci di sebuah ruang, dilarang untuk mengetahui isi kepalanya.
Mas Bumi menyimpan sesuatu dariku.
Aku memantaunya secara diam-diam dari tempatku untuk memastikan dia masih cukup waras. Dia tidak minum cukup banyak alkohol dan kini sedang berjoget heboh di depan sana. Namun, dia sesekali masih melihat ke arahku dengan senyuman simpul. Ya, senyuman yang tak lagi bermakna mengingat tadi kami sempat bertengkar sebelum perjalanan ke sini. Dia sudah membuatku kecewa bahkan sebelum pesta haram ini dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fiksi Penggemar[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
