[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3)
Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
baru bisa update hehehe aku beres-beres kisah sebelah (judulnya janji jiwa kalau mau baca). 🕊️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✨✨
rakabuming jaelani:tunggu aku dulu, ya? kita omongin semuanya.
rakabuming jaelani:kalau kamu gak mau sama aku, gakpapa.
rakabuming jaelani:tapi kita harus clear dulu, supaya aku bisa relain kamu. aku sayang kamu, giz. beneran.
Aku hanya mampu termenung ketika mendapati pesan tersebut sekitar jam lima pagi tadi. Mungkin Mas Bumi baru bisa membaca pesan panjangku, atau dia baru pulang ke apartemen setelah melakukan entah apa urusannya.
Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.
Saat ini aku tengah dalam perjalanan ke apartemen lelaki itu bersama Jasonna dan kakak sepupuku, namanya Mas Putera. Kami berniat mengambil barang-barangku untuk dibawa pindah ke rumah Mbah.
Aku sudah berani memberitahu keluarga besarku. Bukan cara yang paling baik, tapi menahannya lebih lama justru akan jauh lebih berbahaya. Kondisiku adalah kondisi yang rawan. Semakin cepat keluargaku tahu, maka semakin cepat pula aku akan menjadi tenang. Aku bisa merawat kandunganku dengan baik dan tak perlu memusingkan hal lainnya. Dan juga, kehamilan akan membuat perutku membesar. Mau disembunyikan pun, pada akhirnya semua akan terbongkar.
Tentu saja, neraka kembali muncul ketika aku memberitahukan perihal kehamilanku. Ibuk sempat pingsan, sudah bukan hal yang mengejutkan. Paklik dan Bulik panik, melempariku dengan banyak tanya. Aku merasa seperti buronan kelas kakap, dipojokan dan diinterogasi. Bayangan tentang kantor polisi membuat telapak tanganku basah oleh keringat. Namun, kehadiran sepupu-sepupuku berhasil membuatku kuat. Mereka melindungiku, mencoba memberi pengertian kepada orang tua mereka bahwa yang perlu menjadi fokus adalah janin dalam perutku.
Pada akhirnya, kami sepakat untuk membiarkan janin ini bersenyawa bersamaku. Keluarga besarku sepakat untuk menerima janin dalam tubuhku. Tapi, untuk selanjutnya, kami masih belum tahu. Kami belum bicara banyak karena berita besar memang tidak semudah itu diserap otak. Mungkin beberapa hari ke depan, baru mereka akan memberitahuku keputusan untuk tindakan selanjutnya.
Apakah aku akan diusir? Belum tahu juga. Yang pasti, aku sudah siap dengan semua keputusan yang akan mereka—termasuk ibuk—berikan. Seandainya mereka hanya mampu menerima janin ini selama masih berada di perutku, tapi tidak bisa menerimanya kalau sudah lahir ke dunia, maka tak ada pilihan lain; aku harus berdiri sendirian di ujung jurang itu. Ya, jurang yang harus kuhadapi sendirian.
Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu mulai dari sekarang, setidaknya bisa makan dan minum dengan nyaman. Juga bisa beli susu agar anakku tidak lapar.
Tadi pagi, Paklik dan Bulik juga menyebutkan nama Mas Bumi. Mereka bersabda lantang bahwa lelaki itu harus segera menghadap untuk menikahiku secepatnya.