17. Flashback: 17 Agustus 2018

975 63 12
                                        

✨✨

Berbagai macam lomba selalu identik dengan perayaan kemerdekaan di Indonesia. Di berbagai daerah pasti ada bermacam-macam perlombaan yang diikuti anak-anak, bahkan orang dewasa juga.

Sejak kecil, aku bukan termasuk anak yang aktif mengikuti lomba. Aku memang sangat ambisius untuk mendapat nilai yang baik di sekolah, tapi aku tidak berniat mengikuti perlombaan karena aku menganggap perlombaan sebagai hal yang biasa saja.

Ya, dulu jiwa nasionalismeku hanya sampai ke hormat bendera dan upacara. Dulu aku tidak paham bahwa berbagai macam perlombaan juga bisa dijadikan bukti nasionalisme. Perlombaan memiliki arti bahwa rakyat Indonesia bersorak-sorai mengenang suasana pada saat kemerdekaan diumumkan saat itu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tahun ini aku memaksa diri untuk bangkit dari kasur dan mengikuti lomba yang diadakan oleh himpunan jurusanku; Hubungan Internasional. Setelah mengikuti upacara kemarin, himpunanku membuat perlombaan hari ini yang sebenarnya bersifat wajib. Jadi meskipun aku malas pun ya aku terpaksa harus ikut.

Tahun ini aku sudah berikrar bahwa aku harus ikut sorak-sorai perlombaan demi menunjukan kebahagiaanku bahwa Indonesia telah dinyatakan merdeka pada tahun 1945. Tanpa paksaan sedikit pun. Jiwa nasionalismeku bukan hanya sekadar upacara dan hormat bendera saja sekarang, aku berusaha untuk aktif.

Aku datang ke rumah Kak Dea sekitar jam tujuh pagi. Acara perlombaannya memang dilakukan di rumah Wakil Ketua Himpunan yang bernama Dealova Ariani. Bukannya apa-apa. Halaman rumah Kak Dea itu sangat luas dan juga strategis, alias tidak jauh dari kampus. Jadi sama-sama enak bagi semua anggota Himpunan. Aku pun hanya perlu berjalan kaki lima menit ke sini. Ya, aku berangkat sendiri tadi bukan bersama Megantara.

Awalnya perlombaan mau diadakan di tepi pantai saja, tapi cuaca sedang tidak mendukung. Bukannya lomba, kami mungkin justru diguyur hujan. Pagi ini, cuaca juga sudah mendung.

Saat aku sampai di sini, Kak Dea langsung menyapaku dengan senyuman unjuk gigi yang berbingkai kawat gigi. Dia merangkulku sebentar, kemudian memberikanku beberapa balon warna merah-putih untuk menghias halaman rumahnya. Ada beberapa anggota Himpunan yang juga sudah hadir dan membantu. Namun, aku belum melihat pacarku, Mas Bumi.

"Nyariin siapa lo?" tanya Megantara, cowok dengan dandanan paling fashionable di himpunan yang juga teman satu angkatanku.

Megantara Jerico Rumi Jenaka, anak Bekasi yang merantau ke Yogyakarta demi mencapai mimpinya sebagai diplomat. Dia pernah tinggal di Selandia Baru dan menggunakan nama 'Eric', tapi dia lebih suka dipanggil 'Megan' di sini. Katanya, biar ada perbedaan. Aku tidak terlalu peduli. Aku bisa memanggilnya dengan panggilan apa pun. Apalagi kalau dia membuatku naik pitam, aku akan meneriakan panggilan 'Bajingan' di dekat telinganya sampai panas.

Sejak awal kenal, dia sering sekali menceritakan mimpi-mimpinya kepadaku. Omong-omong, dia setahun lebih muda tapi dia anak akselerasi makanya bisa satu angkatan denganku. Selain diplomat--seperti pekerjaan papanya, dia juga ingin sekali bekerja di PBB. Kata dia, "Hidup cuma satu kali, Gzika. Lo nanti nyesel kalau enggak berguna bagi orang lain."

Sungguh mimpi yang mulia, berbeda dengan tampangnya yang lebih mirip playboy cap ikan teri. Sialnya, dengan tampang tengil itu, justru memudahkannya untuk bergonta-ganti perempuan. Cuma dekat, tidak sampai jadian. Aku pernah membahas ini dengan dia, tapi ternyata dia memang tidak siap berkomitmen jadi dia hanya sekadar main-main dengan semua perempuan itu. Lain kali, semestinya aku tampar muka tengilnya itu sampai merah. Kanan dan kiri, bolak-balik.

BUMI & EVAKUASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang