13. Bukan Hari Valentine

1.1K 115 69
                                        

✨✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✨✨

"Lo beneran keras kepala, ya? Atau, lo bego?" Megantara menatapku dengan was-was. Dia mengaduk es krim green tea pesanannya, kemudian meloloskan helaan napas panjang. "Lo yakin ini enggak apa-apa? Lo lanjutin hubungan lo sama Mas Bumi, apa semuanya akan baik-baik aja? Gimana kalau dia terpancing emosinya, dan lo ditampar lagi? Lo siap?"

Megantara tidak berhenti mengoceh sejak tadi pagi. Kebetulan kami masuk dua kelas yang sama hari ini, jadi sejak tadi telingaku sudah penuh dengan ocehan Megantara. Tentunya dia protes, karena aku memilih untuk melanjutkan hubunganku dengan Mas Bumi. Namun, aku punya pembelaan. Ini kan hubunganku dengan Mas Bumi, jadi yang paling tahu ya kami berdua. Orang lain tidak boleh ikut campur.

"Hari ini kan hari Valentine, Giz. Lo enggak merayakannya sama pacar lo? Bukannya udah baikan, kenapa kayaknya masih perang dingin gitu?"

"Gue enggak merayakan Valentine," jawabku asal, kemudian memasukan sesendok es krim vanila ke dalam mulut. "Kita enggak perang dingin, cuma memang belum ada waktu buat ketemu aja. Setelah hari itu, gue kan juga sibuk ngurusin komunitas. Dan juga, dia lagi jalan sama orang lain hari ini."

Megantara mengangkat sebelah alisnya. "Siapa?"

"Tatjana."

Megantara membulatkan mata begitu mendengar jawaban yang keluar dari bibirku. Dia sempat mematung sejenak, sebelum akhirnya geleng-geleng kepala. "Lo... udah enggak cemburu lagi, ya? Atau, lo udah enggak sayang sama dia? Sikap lo beda banget, Gizka. Lo enggak menggebu-gebu lagi. Lo kayak enggak peduli gitu."

Aku menarik kedua ujung bibir membentuk senyuman manis. "Bukannya gue enggak peduli atau enggak sayang sama dia, tapi gue berusaha untuk tetap santai."

"Hah?"

Memang benar, tidak akan ada yang paham dengan hubunganku dan Mas Bumi. Yang paham hanya kami berdua. Orang luar tidak perlu ikut campur. Karena itu, aku berusaha bersikap santai supaya tidak perlu melibatkan orang lain. Berapa kali aku harus menjelaskan ke mereka? Namun, sepertinya tidak ada gunanya juga. Aku masih mau menjalani hubungan ini. Lagi pula, saat kita berkomitmen dengan seseorang itu artinya kita akan bertahan di sisinya dalam bad times dan good times, kan? Mana bisa aku meninggalkan Mas Bumi yang sangat butuh pelukan. Aku yakin, kalau kalian di posisiku, kalian juga tidak mudah untuk meninggalkan dia.

"Mau dia jalan sama cewek mana pun, dia pulangnya akan tetap ke gue, Gan. Gue itu rumah buat dia, begitu juga sebaliknya." Aku memasukan sesendok es krim lagi ke mulut, tepat saat ponselku bergetar. Ada pesan masuk. Nama yang muncul di layar membuat senyumku mengembang. Lalu, aku menatap Megantara dengan ekspresi angkuh. "Nih, dia udah kasih kabar. Udah, enggak usah heboh. Dia pasti balik ke gue."

Aku membuka pesan yang masuk setelah es krim di mulutku mencair. Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, dengan raut wajah yang masih 'bersinar'. Aku tidak mau memusingkan hal-hal yang nantinya justru akan menjadi masalah besar.

BUMI & EVAKUASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang