58. My Lover, My Loser

346 40 46
                                        

✨✨

I’m not asking you to kill Jasonna’s Father.”

Dia membalas dengan santai, “I’m not asking you to forgive me either.”

Aku merasakan rahangku mengeras, hampir meloloskan naga merah penuh amarah. “I never forgive you, Rakabuming.”

Dia mengangguk. “Good job.”

You’re loser.”

I’m your ex-lover too.”

Aku mengumpat dalam hati, kemudian menatap ke arah lain untuk meredakan amarahku. Sebelum aku datang ke sini, aku sempat datang ke dokter kandungan untuk melihat pergerakan si kecil. Aku sudah punya firasat, amarahku akan naik ke ubun-ubun begitu berhadapan dengan ayahnya—ayah bayi ini.

Oleh sebab itu, dokter memberiku saran untuk bisa menjaga diri. Aku harus makan dengan teratur, juga menahan amarah supaya suasana hatiku tetap stabil. Katanya, suasana hati seorang ibu juga bisa menular kepada bayi. Di dalam sana, mungkin bayiku juga akan terbakar emosi. Kalau dia bisa keluar dari dalam rahimku, mungkin dia pun ingin menjambak rambut ayahnya yang tampak gondrong ini. Sudah lama tidak melihatnya, dia tampak lebih kurus.

“Kenapa kamu kaget?” tanyanya tanpa ekspresi yang berarti. Raut wajahnya cenderung dingin. Datar, seperti tak berperasaan. “Aku tahu cara menyakiti orang lain. Aku ahli, Gizka.”

Aku menyeringai, kemudian kembali menatap matanya dalam-dalam. Aku menarik napas panjang, sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan-lahan. Rasanya sedikit sesak. Aku berkata, “Kamu tahu itu, aku juga pandai menyakiti orang lain. Aku enggak sedih atau menangis karena kehilangan Ayah, tapi... aku marah sama perbuatan kamu. Apa harus membunuh? Kalau semua itu memang demi aku, kenapa kamu enggak pakai cara lain? Kamu lebih ahli dari aku soal balas dendam, kan? Kamu tahu hal-hal kasar.”

“Jadi kamu pengin aku mencekik dia kayak yang aku lakukan ke kamu?” Sialan, dia berani-beraninya mengungkit kisah pahit itu di ruangan ini. Tidak seperti biasa, aku diizinkan menemui Rakabuming di ruang jenguk tanpa batasan kaca. Di ruangan ini, ada dua kursi berhadapan dan sebagai gantinya kita dibatasi dengan sebuah meja kayu panjang. Sorot netranya santai, lalu dia menyeringai dan bicara lagi, “Cekikan di leher enggak akan sebanding sama luka yang dia tanam di dada kamu. Jangan munafik, deh! Aku tahu seberapa besar lubang yang dia buat di dalam dada kamu, Gizka. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dia selingkuh berkali-kali dari kamu masih remaja. Dia udah bikin kamu luka dari lama, saat kamu semestinya belajar untuk menerima banyak cinta.”

Banyak cinta?

Seorang anak perempuan yang tidak punya kedekatan secara emosional dengan ayahnya memang gawat. Lihat saja aku, bagaimana aku menjalani hidupku. Aku sayang ayah, tapi sebenernya aku hanya sedang memakai topeng. Setelah ayah meminta maaf kepada ibuk, aku kira aku juga akan baik-baik saja. Keluarga kami makan bersama seperti tak terjadi apa-apa di ruang makan. Ayah tetap mengantarku ke sekolah naik setiap pagi, sekalian berangkat bekerja. Jasonna lebih suka naik kendaraan umum, tapi sesekali mau diantar karena aku memaksanya dengan bibir cemberut.

Aku pernah mendengar perihal Daddy issues, katanya disebabkan oleh trauma masa lalu akibat buruknya hubungan seorang anak dengan ayahnya. Karena aku masih belum mengerti apa-apa tentang diriku, aku merasa bahwa aku baik-baik saja. Aku pun tampil mesra dengan ayah sebelumnya di depan banyak orang. Megantara saja pernah bilang: Ayah lo sayang banget sama lo, Gizka. Dia pengin jagain lo, enggak bakal terima kalau tahu lo disakitin sama cowok mana pun.

Daddy issues menyebabkan seorang anak menjadi kehilangan rasa percaya diri, juga tidak percaya dengan lawan jenis di sekelilingnya. Kebanyakan bahkan mempengaruhi hubungan si anak tersebut saat dia nanti sudah dewasa. Dia jadi tidak bisa menjalani hubungan yang sehat karena adanya pikiran, “Kayaknya, gue enggak bakal punya hubungan yang berhasil, deh. Gue pasti gagal lagi.”

BUMI & EVAKUASICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang