✨✨
“Mau makan apa?” Pertanyaan dari Jasonna berhasil membuatku membuka mata. Ya, sebenarnya aku tidak terlelap sama sekali. Aku hanya menutup mata, karena aku kehilangan rasa. Aku bisa mendengar suara langkah kaki Jasonna yang mendekat, lalu, “Kak Jiwa mau masakin, tapi dia suruh aku tanya dulu ke kamu.”
Aku berbaring membelakangi pintu masuk, sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi apa yang ditunjukan oleh Jasonna. Aku tidak cukup berani untuk menatap wajahnya, apalagi ketika aku tahu bahwa Rakabuming benar-benar membunuh ayahnya—ayah kita.
“Mbak,” panggilnya, kali ini sembari menyentuh lengan atasku. Aku bisa merasakan itu, sejenak menyalurkan sensasi yang membuat dadaku berdebar hebat karena aku tenggelam dalam perasaanku sendiri. Lalu, “Makan, ya? Dedek bayinya nanti kelaparan, lho. Kak Jiwa beneran mau masakin. Dia udah beli banyak bahan tadi sama Ibuk ke pasar.”
Aku menghela napas panjang, kemudian bangun dari posisi berbaring dan akhirnya membuat kontak mata dengan Jasonna. Kita bertatapan dalam satu garis lurus, sehingga aku bisa melihat senyum tipis yang terpancar di wajah tampannya.
Dia tidak baik-baik saja, tapi dia melakukan semua yang dia bisa lakukan. Aku terlalu pengecut untuk berhadapan dengan Jasonna, mengingat semua usaha yang sudah dia lakukan. Hidup ini lucu dan mengenaskan, dia membantuku melindungi lelaki yang pada akhirnya justru membunuh ayahnya.
Semuanya sia-sia, ya?
Kita melindungi orang yang tidak ingin dilindungi. Ketika aku mati-matian mencoba mencari kesempatan untuk belajar melindungi orang lain, tapi nyatanya aku gagal lagi. Aku rasa, aku memang tidak akan bisa melindungi siapa-siapa.
“Maaf,” kataku, untuk pertama kalinya sejak tiga hari lalu. Aku sudah seperti zombie selama tiga hari, sejak kepulanganku dari penjara. Air mataku jatuh satu per satu, lebih deras dari sisa hujan yang kemarin jatuh di Magelang. Tanganku meremas ujung kaos putih lengan panjang yang dipakai Jasonna, lalu, “Maaf, ya? Aku bikin kamu kehilangan Ayah. Aku beneran... minta maaf. Selama tiga hari ini, aku enggak punya keberanian buat ngomong sama kamu. Kamu seharusnya marah, kan? Gara-gara aku, kamu jadi yatim.”
“Kita berdua anak yatim, Mbak,” sahutnya, terdengar kalem dan itu lebih mengejutkanku. “Bukan hanya aku yang anak Ayah, kan? Kamu juga. Kita berdua punya darah Ayah. Aku memang sempat marah dan kaget pas dikasih kabar kalau Mas Bumi yang bunuh Ayah, tapi... aku enggak akan menyalahkan kamu sama sekali. Bukan kamu yang bunuh.”
“Kalau bukan karena aku, dia enggak akan membunuh Ayah.” Aku menundukan kepala, merasa hancur sendiri. Aku memang tidak sedih ketika aku kehilangan ayah karena kematian. Aku lebih sedih ketika ayah meninggalkan keluarganya untuk perempuan lain. Perlu kalian tahu, ayahku adalah anak yatim-piatu. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, persis seperti Rakabuming. Anehnya, ayah tetap melakukan perselingkuhan dengan bodoh. Bagaimana dia bisa membuang keluarganya yang selama ini selalu ada di sisinya? Aku masih tidak bisa menerima itu. Tidak masuk akal. Aku mengangkat kepalaku perlahan dan melanjutkan, lirih, “Pembunuhan adalah tindakan kriminal dan enggak ada satu orang pun yang pantas diambil hak hidupnya. Ayah mungkin seorang bajingan, tapi bukan berarti dia layak dibunuh.”
“Kamu udah ngobrol sama Mas Bumi?” tanya Jasonna, dengan kening berkerut. Aku menggelengkan kepala, jadi dia mengusap-usap bahuku dengan sentuhan lembut. “Kamu enggak mau ketemu sama dia dulu, sebelum kamu pergi?”
Memang sudah diputuskan kalau aku akan segera meninggalkan Indonesia untuk pindah ke Amerika. Paklik sudah menghubungi bahwa semuanya telah selesai diatur. Berkas-berkas yang perlu disiapkan juga sudah diurus oleh ibuk dan Aditya. Waktuku tidak banyak, karena aku akan segera pergi dari tanah air ini. Aku akan memulai hidup baru di negara orang, mencoba kembali merekatkan potongan-potongan hidup yang hancur. Ya, tidak sepenuhnya hancur. Aku kira bahwa aku sudah benar-benar hancur, sampai aku menyadari bahwa ada banyak orang mencintaiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfiction[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
