p.s: kita lari dulu ke masa lalu, ya. biar ada manis-manisnya gitu. 😊💚
✨✨
April 2019
"Kamu mau putus?"
Aku tidak menyangka kalau pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya. Lelaki yang berjanji akan mencintaiku lebih dari selamanya. Di tengah lautan manusia yang tengah menikmati Nol Kilometer Yogyakarta, dia melepas genggamannya pada tanganku. Ya, kami baru saja bertengkar. Masalah sederhana yang mengambil alih logika.
Apa katanya? Memangnya putus itu semudah ini, ya? Semua tidak bisa dilepaskan begitu saja, dalam hitungan detik. Jawaban apa yang dia mau dariku? Setuju dengannya? Tidak akan!
"Kamu enggak mau jujur sama aku."
"Bagian mana yang enggak jujur?" tanyaku, sambil menahan air mata yang siap meluncur deras di pipi. Aku begitu pengecut, justru ingin menangis di sini. Beruntung suara kami tidak begitu keras, orang-orang belum menjadikan kami sebagai ajang tontonan. Lalu, "Kamu tanya kenapa aku bisa ketemu sama Fauzan, kan? Aku ketemu dia tanpa sengaja. Aku diajak Alinea nonton pertunjukannya Nadin Amizah tadi, dan di sana ada Fauzan. Bukan kesengajaan. Toh, kamu langsung bawa aku pergi, kan? Aku enggak ngapa-ngapain sama dia, Mas."
Agendaku malam ini sebenarnya adalah menonton pertunjukan Nadin Amizah di acara yang dibuat oleh Fakultas Hukum. Bukan sesuatu yang menghebohkan, fakultas itu memang terkenal canggih kalau soal mengundang bintang tamu di acara yang mereka buat. Tahun lalu, mereka juga mengundang GAC dan Padi. Lalu, malam ini semestinya aku menikmati suara-suara seindah senja dari Nadin Amizah bukannya justru terduduk di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Padahal Alinea sudah susah-payah mendapatkan tiket pertunjukan tersebut untukku, mengingat aku juga mengidolakan penyanyi cantik yang sering disapa sebagai ibu peri itu.
Oh iya, Alinea adalah teman satu jurusanku di Hubungan Internasional. Kami dekat karena satu kelompok saat ospek dulu. Lalu, hubungan kami berjalan sampai hari ini. Kami sering curhat tentang masalah percintaan satu sama lain. Alinea sih masih digantung oleh Kakak tingkat dari jurusan Teknik Mesin. Ketemunya tanpa sengaja di tempat laundri baju. Waktu itu uang yang Alinea bawa kurang, jadi dia terpaksa hutang ke Mas Mesin tersebut. Dan ya, semuanya berlanjut sampai ke ranah romantisme. Semoga Alinea segera mendapatkan kejelasan.
Kalau kalian bertanya-tanya bagaimana caranya aku bisa sampai di tempat ini, ya tentu saja semua ini adalah ulahnya kekasihku; Rakabuming Jaelani Pranadipa. Dia melakukan video call saat aku sedang asyik menonton Nadin Amizah, lalu tanpa sengaja melihat sosok lelaki yang berdiri di sebelahku.
Dia mengenal lelaki itu, salah satu anak Fakultas Hukum yang juga merangkap sebagai panitia. Dia hanya mendekat untuk basa-basi saja. Namanya Fauzan Sinaga. Sebelum resmi berkencan dengan Mas Bumi, dia yang lebih dulu membuktikan perasaannya.
Sayang sekali, pelet Mas Bumi jauh lebih kuat. Makanya aku justru jatuh ke pelukan Mas Bumi yang kala itu terlihat abu-abu. Belum jelas mau membawaku ke arah mana. Tak salah kan, kalau waktu itu aku sempat meragukan perasaannya?
Terkadang aku menyesal karena menceritakan masa laluku kepada Mas Bumi. Dia tahu semua mantan kekasihku. Dia juga tahu gebetan-gebetanku yang tidak sempat jadian--selamanya hanya akan jadi hampir. Seperti lagunya Ariana Grande, Almost is never enough.
"Fauzan masih suka sama kamu, Gizka," ucapnya keras kepala. Pada saat seperti ini, dia hanya percaya pada asumsinya sendiri. Lalu, dia menambahkan, "Makanya dia nyusulin kamu ke sana. Dia bukan mau nonton Nadin Amizah atau siapa lah itu. Dia mau ketemu kamu. Dia seng-a-ja."
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fiksi Penggemar[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
