[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3)
Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✨✨
Ketika hati berubah menjadi kepingan.
"Gan."
Aku menatap Megantara yang menundukan kepala seolah takut kalau aku akan memakan kepalanya sekarang. Memang, saat ini aku sedang dalam pengaruh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Di mana?"
Megantara membasahi bibirnya, namun enggan menjawab.
"Lo dibayar berapa sama Mas Bumi?" tanyaku, sinis. Aku menyentuh dagu Megantara untuk menaikan wajah lelaki itu. "Bar yang mana, Gan? Tinggal bilang, apa susahnya?!"
"Sorry, Giz," katanya lemah. Dia takut untuk menatap mataku, tapi aku memaksanya.
Kalian pasti pernah dengar, kalau orang yang jarang marah justru akan sangat seram dan berbahaya apabila amarahnya dipancing. Saat ini, aku rasanya mau menggunduli rambut blonde Megantara.
"Lo kalau mau kasih informasi jangan setengah-setengah."
"Gue enggak mau kasih informasi, Giz," sahutnya. "Lo seharusnya enggak ada di sini."
"GPS," jawabku sembari melepaskan dagu Megantara. Lebih tepatnya, mengempaskannya. Lalu, aku mengenalnya kedua tangan di sisi tubuh. "GPS-nya Mas Bumi nyala, jadi gue selalu bisa lacak keberadaan dia. Begitu juga sebaliknya, dia bisa melacak keberadaan gue."
Megantara ternganga. Dia tidak segera bicara, melainkan mengerutkan keningnya. Pandangannya penuh tanya, yang aku tebak akan dia lontarkan kepadaku sebentar lagi.
"Hubungan lo sama Mas Bumi kayak gitu, Giz?" tanyanya, enggan percaya. Aku bisa membaca ekspresinya. Antara percaya tapi juga enggan mau percaya. Lalu, "Gue enggak tahu, kalau kalian..."
"Iya," selaku tanpa pikir dua kali. Aku terkekeh pelan yang sebenarnya mentertawakan diri sendiri. Lalu, begitu tawaku mereda, aku melanjutkan, "Hubungan gue dan dia enggak semanis yang orang-orang lihat, Gan. Kita sama-sama toxic. Dia enggak percaya dan posesif banget sama gue, sedangkan gue mulai hancur karena sikap dia. Gue juga takut kalau dia pergi tanpa tanggung-jawab setelah membuat gue frustasi, makanya kita sama-sama pasang GPS. Dia enggak bisa pergi dari gue, dan gue juga udah terikat sama dia. Hubungan ini enggak akan ada akhirnya, Megantaraaa!"
Entah kenapa, aku justru membentak Megantara sampai beberapa pengunjung kafe ini melihat ke arah kami. Megantara panik, jadi dia segera melepas jaket jins yang dipakainya untuk menutupi wajahku. Bukan apa-apa, zaman sekarang banyak hal bisa dijadikan konten media sosial. Siapa yang tahu, kalau besok wajahku terpampang di mana-mana dengan caption: perempuan galak yang memarahi pacarnya di tempat umum.
Dia menggandengku erat, sementara kami berjalan keluar dari kafe.
"Lo enggak perlu cemas, Mas Bumi ke bar sama teman-temannya yang lain. Wajar kali, Giz. Dia cuma minum doang, enggak narkoba."