✨✨
Duduk berhadapan dengan dia terasa berbeda sekarang, apalagi ketika aku mengamati baju tahanan yang kini menggantikan kemeja rapi yang biasa dia pakai ke kampus.
Aku menghela napas sembari memandangi wajahnya yang sumringah ketika melihatku datang. Butuh waktu beberapa saat sampai aku bisa membuka mulutku dan bertanya, “Kenapa?”
Dia menatapku, tulus. “Terima kasih udah mau datang. Dan, saya turut berbelasungkawa atas kematian Ayah kamu. Katanya... korban pembunuhan, ya?”
Aku manggut-manggut. “Iya.”
“Pelakunya udah ketemu?”
“Belum.”
Entah mengapa aku merasa canggung. Niat awalku adalah untuk menghancurkannya, tapi aku justru merasa kehilangan kekuatan sekarang. Ada sedikit simpati di dalam sana yang meraung-raung. Bagaimanapun, dia pernah membantuku menyelesaikan sidang skripsi. Dia juga dekat dengan ibuk dan merupakan anak dari sahabat ibuk. Jadi aku tidak ingin terlalu membencinya.
Aku mencoba mengendalikan diri.
“Kamu pengin tahu siapa pelakunya?” tanyanya, jelas membuatku mengangkat sebelah alis. Dia masih tersenyum, tapi tidak selebar saat aku datang tadi. Dia memberiku senyuman yang kalem sekarang. Lalu, “Kamu tahu kan, saya bisa mengendalikan pikiran orang. Katanya sih cuci otak ya, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai sugesti. Dan... saya juga punya kemampuan kayak Hujan.”
“Anda... kenal Hujan?”
“Pernah ketemu waktu saya ke rumah kamu,” jawabnya, tanpa berpikir. “Saya lihat dia dan saya tahu kalau dia punya kemampuan lihat masa lalu dan masa depan. Indigo? Saya juga bisa kayak gitu.”
“Hujan masih amatir,” sahutku, lirih.
Kita berdua dibatasi oleh sebuah kaca, sehingga aku tidak perlu merasa risau kalau dia akan menyentuh tanganku secara tiba-tiba seperti yang biasa dia lakukan.
Dulu dia selalu pintar mencari kesempatan.
Dia mendekatkan wajahnya ke pembatas kaca dan, “Saya bukan amatir, saya bisa lihat siapa yang bunuh Ayah kamu. Tapi... kayaknya kamu enggak pengin tahu, jadi saya juga enggak akan kasih tahu kamu. Saya coba hargai pilihan kamu, Gizka.”
Dia benar, bahwa aku memang tidak penasaran. Kalaupun pembunuhnya tidak tertangkap, aku tidak akan merasakan apa-apa. Aku baik-baik saja setelah kepergian lelaki tukang selingkuh itu—lelaki tua yang mengalami pubertas berkali-kali seperti anak muda.
“Kenapa?” Kali ini, aku mencoba mengambil alih kemudi dan gantian melempar tanya padanya. Ada banyak hal yang membuat kepalaku penuh sejak dalam perjalanan dari Depok. Begitu sampai Jogja, aku langsung minta diantar Jiwaraga ke sini untuk menemuinya. Dia adalah tersangka pertama yang ingin kutemui. Aku menelan saliva kasar dan menambahkan, “Kenapa Anda melakukan itu? Semua gadis muda itu punya masa depan, Pak. Mereka enggak seharusnya dijual di Rumah Balerina. Anda juga kejam, karena Anda sengaja menghapus ingatan mereka tentang insiden pembunuhan itu.”
Dia tersenyum miring. “Kamu beneran peduli sama para gadis itu? Saya tahu kamu, Gizka. Kamu cuma fokus sama kasus Rakabuming. Kamu cuma pengin tahu kesaksian para gadis itu untuk meringankan dakwaan lelaki yang pernah kamu cintai itu. Berhenti sok peduli, karena nyatanya para gadis itu cuma jadi batu loncatan kamu untuk menyelamatkan Rakabuming!”
Aku menggertakan gigiku, menahan amarah yang mulai mencapai puncak. Dia mungkin benar, awalnya semua ini dimulai dengan satu tujuan, yaitu untuk menyelamatkan Rakabuming karena dia adalah ayah dari bayi yang ada di kandunganku. Namun, semakin jauh aku masuk ke dalam kasus ini, aku menyadari kalau ada banyak orang tak beruntung yang harus mendapatkan keadilan termasuk para gadis di Rumah Balerina tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfiction[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
