Bagian kedua dari bab — Flashback: Terakhir Kalinya. Baca lagi aja kalau lupa, gakpapa.
✨✨
Minggu ketiga — April 2019
"Jadi udah tiga hari?" tanya Megantara santai. Dia tengah bermain game di laptop-nya. Tanpa melirik ke arahku, dia menambahkan, "Lo enggak mungkin putus, kan? Enggak mungkin banget, sih."
"Kenapa enggak mungkin?" tanyaku, sedikit sewot. Dalam suatu hubungan, kata 'putus' sangat wajar terjadi. Bahkan kasus hubungan bertahun-tahun sekali pun.
Megantara mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Yaaa, lo sama dia tuh enggak mungkin ada putusnya. Pasangan yang sempurna, kayak ke mana-mana ada aja kan cewek yang julid sama lo."
Aku menganggukan kepala, setuju. "Justru karena ada yang julid itu, gue jadi ragu."
"Ragu gimanaaa, sih?" Megantara masih fokus pada layar laptop-nya. Kini karakternya di game tersebut tengah menyerang lawan. Lalu, beberapa detik kemudian, dia bicara lagi, "Yang julid kan orang luar, Gizka. Mas Bumi aja santai-santai aja, kok. Dia malah tambah bucin sama lo. Apa susahnya percaya sama pacar sendiri? Lo tuh kebanyakan dengerin omongan orang. Kadang."
Bagi orang-orang normal, omongan orang bisa diabaikan begitu saja. Namun, bagi seseorang yang terlalu perasa sepertiku, omongan buruk mereka seperti anak panah yang tajam dan membuatku berdarah-darah.
Ya, mungkin itu salahku, karena aku ovelfeel, overthink, overlove.
Kalian juga bisa menyalahkanku. Namun, memori di masa lalu itu masih sering menyerangku. Diam-diam, selama ini, aku hanya mencoba untuk tidak peduli. Aku berusaha untuk menjadi pemberani. Aku tak ingin mempermalukan Mas Bumi. Akan tetapi, hal tersebut begitu sulit untuk dijalani. Tidak mungkin berubah hanya dalam hitungan malam. Butuh waktu dan usaha keras yang lama. Sejauh ini, aku masih sering gagal.
Megantara mengalihkan pandangan dari layar laptop dan menatapku heran. Ya, aku belum bicara apa-apa. Lalu, "Setahu gue, lo dari belum pacaran sama dia udah digosipin, deh. Tapi, waktu itu, lo berani-benani aja."
Aku cemberut, kemudian menyandarkan kepalaku ke bahu Megantara. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya aku merespon, “Yaaa, itu kan beda temanya. Dulu tuh digosipin karena jadi gebetan Mas Bumi dan omongan mereka enggak ada yang nyakitin, Gan. Kalau sekarang, astaga... gue dikatain hina dan enggak pantas buat dia."
"Sebentar!" Megantara mematikan layar laptop-nya, kemudian menatapku dengan seksama. Perlu kuberi pujian, betapa dia rela menghentikan game favoritnya demi mendengarkan ceritaku. "Jadi gimana?"
"Mereka bilang kalau gue enggak pantas buat Mas Bumi."
"Siapa yang bilang, hm?"
Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh Mas Bumi tiga hari lalu. Ya, tiga hari lalu. Sudah tiga hari tak saling sapa atau bertanya kabar. Tiga hari ini, aku mulai merasa nyeri karena menahan rindu.
Tangan kiri Megantara seketika menyentuh telapak tanganku. Dia meletakannya di atas telapak tanganku, kemudian mengusapnya lembut. Dasar sok romantis! Dia meniru adegan dari film yang mana lagi? Terlalu sering makan malam dengan serial Netflix, jadinya begini. Dia selalu mempraktekannya denganku padahal aku bukan kekasihnya.
Jangan kan kekasih, jadi gebetannya saja aku akan menolak keras!
"Circle-nya Mas Bumi," jawabku dengan suara lemah. Saat Megantara mengangkat sebelah alisnya, aku melanjutkan, "Circle yang cewek kayak enggak suka sama gue, deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfiction[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
