p.s: boleh buka bab CALL ME BABY dulu, karena akan berkaitan. gak juga gakpapa sih, kalau masih ingat.
✨✨
April 2020
"Lanjutin aja," kataku santai sambil memasukan sesendok gado-gado ke dalam mulut. Aku melirik Megantara dan Olivia yang tampak kaget mendengar respon santai dariku. "Lagian kamu yang akan rugi, kan? Bukan aku. Aku mah enggak akan rugi apa-apa, Mas."
"Giz, aku..."
Aku memindahkan ponsel dari telinga kiri ke kanan, kemudian membuka mulut sebagai kode ke Megantara kalau aku minta disuapi. Megantara pun menyodorkan sesendok gado-gado miliknya ke mulutku.
Aku mengunyah sambil mendengarkan penjelasan Mas Bumi yang sebenarnya tidak kubutuhkan. Lalu, aku tertawa kecil. "Lanjutin aja jalan sama Tatjana, sampai aku nanti putusin kamu. Aku udah bisa prediksi apa yang akan terjadi. Kamu tahu, kan? Aku bisa jadi lebih berbahaya dari kamu?"
Mas Bumi kembali menjelaskan panjang-lebar kalau dia ada pertemuan dengan komunitas fotografi sehingga dia juga bertemu Tatjana yang sudah pindah dari kontrakan. Gadis itu sepertinya muak dengan wajahku. Atau, dia takut makanya melarikan diri. Bahkan, saat pindahan pun, dia menyewa orang untuk mengambil barang-barangnya. Tak ada pamit sama sekali. Di mana adabnya?
Kalau dia ketakutan begitu, bukannya dia menunjukan bahwa dia bersalah? Orang yang salah selalu ingin melarikan diri demi menutupi kesalahannya.
"Saat kamu baru selangkah, aku udah tiga langkah di depan kamu," kataku, mantap. "Watch your step, Baby. I'm dangerous."
Aku memutus sambungan telepon, kemudian memasukan benda android itu ke dalam tas yang kuletakan di kursi sebelah karena aku tengah duduk sendirian. Megantara dan Olivia duduk bersebelahan di hadapanku.
"Kamu sehat, Giz?" tanya Olivia sambil meletakan telapak tangannya di jidatku. Untuk sesaat, keningnya berkerut. "Kamu demam, ya? Badanmu panas."
"Badannya memang lebih panas dari orang lain," sahut Megantara kalem. Lalu, dia melirik Olivia dan menambahkan, "Badannya memang panas biasanya, enggak usah heboh."
Olivia mengangkat tangannya dari jidatku, kemudian melanjutkan aktivitasnya memakan mi magelangan. Di antara kami, dia sendiri yang memesan menu yang berbeda.
"Lo beneran butuh bantuan," ucap Megantara tiba-tiba setelah menyelesaikan gado-gado di piringnya.
Hari ini adalah hari terakhir sebelum PSBB sehingga kami memutuskan untuk makan bersama. Olivia ikut juga, toh dia sudah mengenal Megantara dengan baik. Aku berniat menjodohkan mereka. Sst, jangan bilang-bilang.
Olivia menatap Megantara dan melirikku sekilas. "Bantuan apa? Aku mau gabung."
Megantara menghela napas, dan, "Lo lihat aja tangan sama lehernya. Banyak bekas luka. Tanpa tanya pun, gue udah tahu. Mas Bumi yang melakukan itu, kan?"
Aku justru menarik senyum tipis. "Lo mau lapor polisi, hm?"
"Enggak." Megantara menggeleng, lalu dia mengulurkan sendok ke piringku dan mencuri sesendok sayuran yang sudah dibalut saus kacang. Setelahnya, dia menambahkan, "Psikiater."
Olivia kembali mengamatiku, kemudian dia membulatkan mata. Tangannya seketika menyentuh leherku yang hari ini tidak tertutupi apa-apa. Aku sengaja membiarkannya, lagi pula bekasnya samar-samar. Tak akan terlihat jelas kalau tidak dilihat dari jarak dekat.
"Itu... kiss mark?" tanyanya, hati-hati. Dia seperti takut dengan jawaban dariku. Lalu, dia mengusapnya lembut dan, "Bukan cuma kiss mark, aku yakin. Lukanya kayak... dicekik."
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfiction[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
