**
Sebelum ke Los Angeles.
Ternyata berjalan bersama lelaki ini tidak secanggung yang aku kira. Justru, rasanya jauh lebih konyol. Aku tidak berani melirik ke sebelah, sok sibuk melihat-lihat etalase toko di mal ini.
“Kamu mau beli apa?” tanyanya, yang tengah berjalan di sebelah kananku.
Aku mengusap perut dan menggeleng. “Kayaknya enggak ada, sih, Pak. Sejauh ini belum ada.”
“Yakin?”
“Mm.”
Biasanya aku selalu berdebat dengannya dengan ujung tenggorokan yang panas dan membara. Seperti naga yang tak ingin kalah dan siap melahapnya sebagai makanan penutup. Namun, malam ini, aku berjalan bersamanya berkeliling salah satu mal besar di Jogjakarta. Basa-basi santai seolah apa yang kita lalui selama berbulan-bulan ini tidak ada artinya. Padahal, badan kita remuk dan mungkin butuh piknik.
“Makasih traktirannya, ya?” Pak Deril bersuara lagi dan membuatku akhirnya menoleh ke arahnya. Kita berdua turun ke lantai satu menggunakan eskalator, dengan tangannya yang melindungi punggungku. Aku bisa merasakan itu meskipun dia tidak benar-benar menyentuhku. Lalu, “Saya enggak tahu kalau saya bakal dapat bayaran sepiring steak setelah melindungi pacar kamu.”
“Mantan pacar.”
Dia tergelak. “Ya, mantan pacar yang bakal punya anak bareng. Gimana kandungan kamu? Kuat juga, ya. Dibawa lari ke mana-mana tapi enggak manja. Kamu juga jarang ngeluh, kayaknya.”
“Ngeluh, kok,” sahutku, cepat. Tak ingin terlalu dianggap keren. Aku melanjutkan langkah begitu eskalator membawa kita berdua ke lantai satu, lantas aku mengajak Pak Deril berkeliling lagi untuk membeli es krim yang ada di lantai satu. Aku menambahkan, “Kalau lagi di rumah, aku suka pegel-pegel. Kata Ibuk itu wajar, soalnya bebannya semakin berat. Bayinya kan tumbuh.”
Pak Deril manggut-manggut. “Saya belum pernah merawat orang hamil, sih. Tapi, informasi dari kamu ini bakal saya ingat sampai nanti.”
Aku mengangkat sebelah alis. “Pak Deril mau nikah?”
“Ada rencana.”
“Memang udah ada jodohnya?”
Aku tahu, ucapanku barusan terdengar seperti meremehkannya. Namun, dia memang terlihat jelas seperti lelaki lajang. Dia juga tidak terlihat terlalu tertarik dengan perempuan. Maksudku, karir jauh lebih menjadi pusat dunianya dibanding menjalin hubungan romantis dengan para gadis.
Lelaki yang hari ini memakai kemeja hitam lengan panjang, tapi dia menggulungnya sampai ke siku itu tidak merespon pertanyaan dariku. Dia justru melempar tanya, “Mau es krim, kan?”
“Iya.”
“Tunggu sini!”
Dia hendak ingin melangkah pergi, tapi aku menahan ujung kemejanya dan membuatnya mengerutkan dahi.
Dia melanjutkan, “Tunggu sini aja! Saya yang beli, kan tadi kamu udah traktir steak.”
“Pengin pipis,” kataku, lirih.
Dia memandangiku dengan sorot yang tidak aku mengerti, tapi matanya mulai naik-turun. Dia memandangiku dari atas kepala sampai bawah, kemudian kembali ke atas. Dia menghentikan pandangan tepat di manik mataku.
“Kamu enggak bisa pipis sendiri karena hamil?” tanyanya, tampak kebingungan. Dia membasahi bibir bawah dengan sorot gugup. “Saya harus gimana, Gizka? Saya harus ikut kamu pipis gitu?”
Aku segera menggelengkan kepala karena bukan itu yang aku mau. Demi Tuhan! Aku masih bisa buang air kecil sendiri!
“Saya takut kalau mau ke toilet di mal, Pak,” jelasku, kemudian nyengir malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fiksi Penggemar[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
