percaya padaku, kalian akan lebih dukung bumi mulai dari sini. lets see...
✨✨
Keadaan rumah sakit tetap ramai seperti biasa, bedanya mulai ada aturan untuk jaga jarak. Kursi-kursi ditempeli tali rafia warna hitam untuk memberikan peringatan supaya tidak diduduki. Kursi panjang yang muat untuk lima orang, kini hanya boleh diduduki oleh tiga orang. Dua kursi dikosongkan dan diberi tanda tali rafia hitam tadi.
Pegawai rumah sakit pasti bekerja sangat keras untuk ini. Tak lupa, ada pengecekan suhu oleh dua orang satpol PP sebelum diizinkan memasuki pintu utama rumah sakit. Juga disediakan hand sanitizer untuk mencuci tangan. Karena rumah sakit memang tempat yang biasanya selalu dijaga kebersihannya, bagiku tak ada perubahan mencolok selain dua hal tadi.
Oh, aku hampir lupa, semuanya memakai APD lengkap. Orang-orang yang datang pun diwajibkan untuk memakai masker yang harus dipakai sesuai aturan; menutupi mulut dan hidung, jangan hanya dijadikan pajangan saja.
Kalau kalian penasaran mengapa aku berada di rumah sakit, maka jawabannya adalah perjanjian busuk antara aku dan Megantara. Dia sungguh membawaku ke dokter jiwa.
Aku mengikuti perintahnya dengan wajah datar karena memang tak tertarik sedikit pun. Dokter jiwa tersebut rupanya sudah sangat mengenal Megantara. Memang koneksi bocah itu tak bisa dianggap remeh. Mereka banyak mengobrol tentang aku.
Lucu sekali, karena Megantara justru bertingkah seolah dia paling tahu tentang diriku.
Gan, for your information, aku saja tidak bisa mengenali diriku sepenuhnya.
Bukan hal yang mengejutkan, dokter laki-laki bernama Juanda itu tentu memberiku saran untuk berpisah dengan Mas Bumi. Kalau dirasa berat, dia memintaku untuk menjaga jarak saja. Toh, kondisi sekarang juga sulit untuk bertemu. Katanya, akan jauh lebih baik kalau kami tak bertemu untuk sementara waktu.
Dok, pacarku ada di kantor polisi.
Dia belum dibebaskan walaupun KATANYA tidak dimasukan ke dalam sel tahanan dan diberi makan ayam bakar. Aku pun belum bisa melihat wajahnya. Entahlah, semoga dia sungguh diperlakukan baik seperti manusia. Jangan sampai ada polisi yang menginterogasinya dengan kekerasan.
Jika mereka melakukannya, bukan Mas Bumi yang dijadikan tersangka sebagai pembunuh tapi aku. Ya, aku akan membakar seisi kantor polisi itu dan melempar diriku dengan suka rela ke dalam penjara.
"Lo dengar apa yang dibilang Kak Juanda tadi, kan?" Megantara mulai merusuhi hidupku lagi. Kami sudah keluar dari ruangan dokter muda itu, lalu kami berjalan menyusuri lorong menuju parkiran. Megantara menambahkan, "Gue banyak omong bukan buat gue, Gizka. Takutnya lo nih maki-maki gue di dalam hati. Tapi, please! Semua ini demi lo. Nanti, lima tahun lagi, lo akan sadar dan minta maaf sama gue."
Aku memutar bola mata malas, terus berjalan tanpa menghiraukan segala bualan yang keluar dari mulut Megantara. Ingin sekali melawan bocah rambut jagung ini, tapi nanti dia tak mau membantuku melepaskan Mas Bumi. Tiap kali aku mencoba memberontak dengan halus, Megantara selalu punya cara untuk menghentikanku.
"Gue bisa suruh Pak Deril berhenti ngurusin kasus itu," katanya, tiap kali aku menunjukan tanda-tanda pemberontakan walaupun aku sudah mencoba bermain aman di belakangnya.
Kami hampir sampai di parkiran ketika ada suara ribut-ribut tak jauh dari lokasi kami. Aku masih mematung di tempat, mataku sibuk menatap ke arah sumber suara yang begitu jelas ditangkap oleh indra pendengaranku. Lalu, aku baru menoleh ke arah Megantara yang juga terdiam. Dengan kedua mataku, aku melihat sosok dua laki-laki berbadan tegap dengan seragam ketat polisi membalut tubuh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfiction[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
