04. It's Okay It's Love

1.1K 136 15
                                        


*silakan dengarkan lagu di atas.

✨✨

7 Januari 2020

AKU percaya bahwa korban pertama dari perceraian adalah seorang anak. Bukan hanya itu, keharmonisan dalam keluarga pun juga sangat memengaruhi mental anak tersebut. Karena itu, aku jadi sangat was-was sekarang melihat kondisi Mas Bumi yang didiagnosa mempunyai depresi bukan hanya karena dunia kerjanya yang toxic tapi juga akibat perceraian orang tuanya.

Aku pun sangat terkejut, karena aku sempat bertemu papanya Mas Bumi awal bulan September tahun lalu--saat wisudanya Mas Bumi. Yang membuatku lebih terkejut, Mas Bumi memendam semuanya sendirian. Aku sangat bodoh karena tidak curiga sama sekali.

Memang benar, yang tampak baik-baik saja bukan berarti kenyataannya juga begitu.

Bukan hanya itu, rupanya papanya Mas Bumi menikah lagi dengan begitu cepat. Aku tidak perlu bertanya, karena aku paham. Perselingkuhan adalah alasan terkuat perceraian tersebut. Ketika satu hati sudah berpaling, maka hati lainnya akan hancur.

Janji suci pernikahan pun masih bisa diingkari.

Akibat peristiwa itu, Mas Bumi membenci papanya. Dia tidak mau bertemu papanya lagi. Bahkan, dia juga mengutuk istri baru papanya. Aku tidak bisa apa-apa karena dia yang merasakan sakit itu. Wajar, kalau dia menjadi sebenci itu dengan papanya. Aku hanya bisa menjadi pelindungnya, tanpa berhak menghakimi rasa sakitnya.

Dia terluka... parah.

Aku jadi merasa sangat bodoh karena aku percaya kalau dia kuat. Sampai di hari Natal tahun lalu, dia membawa semua obat depresinya dan menangis di pelukanku. Sebelumnya dia hanya bilang kalau dia didiagnosa mempunyai depresi. Sudah. Cukup. Hanya seperti itu.

Maaf.

Dia menyimpan semuanya sendirian. Saat hari perceraian orang tuanya pun, dia masih bisa tertawa dan membawaku jalan-jalan keliling Yogyakarta. Aku yang bodoh. Aku terperangkap dengan senyumannya itu, sampai aku tidak sadar kalau dia bertarung dengan dirinya sendiri.

Aku punya dua mama sekarang, katanya hari itu. Dia tidak menangis. Dia mengucapkan itu saat kami berdua sedang makan bakso favoritku. Nada suaranya begitu santai. Sorot netranya tidak rapuh sama sekali. Senyuman manisnya masih bertengger di wajah tampannya itu. Hari itu, dia bahkan makan dua porsi.

Hari itu juga, aku tetap menghabiskan satu porsi bakso yang ada di hadapanku. Bukannya aku tidak bisa melihat betapa hancurnya dia, tapi... aku speechless. Aku shock. Aku tidak tahu harus apa. Jadi, aku hanya terus mengunyah bakso dengan tatapan seperti orang bodoh. Seharusnya memang aku yang meminta maaf. Bukan salah dia. Semua yang terjadi bukan karena kelalaian dia.

Mas Bumi adalah korban.

Seperti dia, awalnya aku sangat marah dengan papanya. Aku ingin memaki-maki lelaki itu. Aku ingin bertanya banyak hal pada lelaki itu, kenapa dia tega meninggalkan keluarganya demi perempuan lain? Kenapa dia tega mengorbankan anak semata wayangnya yang manis ini? Kenapa dia tega mengambil langkah yang salah, tanpa mau tahu bagaimana keadaan mental anaknya karena peristiwa itu?

Aku sangat marah, sampai aku juga berani memanggil lelaki tua itu dengan sebutan: bajingan.

Aku sebenarnya ingin protes, karena Mas Bumi tidak memberitahuku lebih awal. Dia menyembunyikan semuanya. Dia tidak melibatkanku. Padahal, aku pasti akan menjaga dia dengan lebih baik lagi kalau aku diberitahu lebih awal. Aku tidak akan membiarkan dia hancur sendirian. Aku sangat menyayangkan keputusannya itu. Namun, ini bukan saat yang tepat. Bukan saatnya aku protes.

BUMI & EVAKUASICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang