[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3)
Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✨✨
Pemandangan yang sudah tidak asing lagi untuk dua minggu ini. Lakuna dalam dadaku hanya bisa menertawakan pemandangan yang kuterima melalui saraf-saraf mata. Ibuk sedang bercengkrama akrab dengan Pak Wasesa setelah lelaki itu datang untuk membantuku menyelesaikan skripsi. Selama dua minggu ini, wajahnya mengisi hari-hariku walaupun rasanya biasa saja.
Tentang keakraban dia dengan ibuk, itu karena dia merupakan anak dari teman kuliah ibuk. Teman yang ibuk temukan via media sosial Facebook. Setelah mengantarku cek kandungan yang syukurnya sehat sentosa—usianya sudah lima minggu kata dokter, kami sempat mampir ke rumah teman kuliahnya itu. Dan tentu, aku terkejut setengah mati karena dunia sempit sekali.
Ibu-ibu asyik membicarakan masa lalu, sampai tingkah masa muda mereka yang menghasilkan tawa. Hanya mereka yang tertawa, aku dan Pak Wasesa sih terlibat perang dingin. Kami saling pandang tapi tidak menyapa. Kami sesekali melirik datar, tapi bibir terkunci rapat. Baru saat aku pamit pulang, dia berpesan supaya aku menjaga kandunganku dan dia akan membantuku menyelesaikan skripsi secepatnya supaya aku juga bisa pindah ke Amerika.
Lucunya, dia tidak lagi membicarakan perihal perasaannya.
Pak Wasesa tak lagi mengejar cintaku, justru menjadi sangat pengertian dan bisa diandalkan. Dia meminjamkan banyak buku kepadaku, juga dengan sukarela bolak-balik dari rumahnya ke Magelang untuk melakukan bimbingan. Sedikit terbalik ya, yang butuh bimbingan kan aku tapi dia yang harus melaju ke Magelang.
Katanya, dia tidak keberatan dengan alasan: Saya suka melindungi wanita cantik dan Ibu hamil. Enggak apa. Duduk aja di rumah, nanti saya yang ke tempatmu buat bimbingan.
Kali ini, dia bergaya seperti Big Boss.
Oh iya, tentang Rakabuming.
Sejak malam perpisahan dengan Rakabuming, kami memang sudah jarang berkabar. Hanya basa-basi perihal si bayi. Seperti katanya, kalau aku mengidam ingin makan sesuatu maka aku akan meneleponnya dan dia pasti datang membawa makanan yang kuinginkan. Dua hari lalu, aku ingin sekali makan sate usus dekat kampus, akhirnya dia membelinya dan mengantarnya sendiri.
Aneh juga, padahal katanya dia sedang sibuk bekerja di kantor tapi tetap bisa mengantar sendiri. Padahal aku tidak keberatan sekalipun dia mengantar via ojek online.Toh, zaman sekarang memang sebaiknya rajin memanfaatkan kecanggihan teknologi dan jasa-jasa yang ditawarkan.
Memang sih manusia jadi tampak seperti pemalas yang mau gampangnya saja. Tapi, kalau ada yang gampang, mengapa juga bertahan dengan cara susah? Tidak berkembang namanya kalau tetap bertahan dengan cara susah padahal ada yang lebih efisien.
“Dia ke sini sebagai dosen, Buk,” kataku pada akhirnya sembari menahan tawa melihat wajah tampan Pak Wasesa diuyel-uyel oleh ibuk. Lalu, aku menambahkan, “Tolong lebih dihormati.”