05. You Were Beautiful

962 114 23
                                        


✨✨


31 Januari 2020

KEGIATAN menunggu memang tidak akan menjadi hal favorit bagi manusia. Aku sama seperti yang lainnya, yaitu tidak suka menunggu. Namun, dalam hidup ini, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita mau. Kita juga dituntut untuk sabar dan menunggu.

Hari ini adalah hari ulang tahun mamanya Mas Bumi. Kami berencana untuk membeli kue ulang tahun karena kebetulan mamanya Mas Bumi sedang berkunjung ke sini. Beliau sudah menginap di hotel selama lima hari, dan kemungkinan akan pulang lusa karena cutinya hanya seminggu.

Kami sudah janjian akan bertemu di depan ruang Himpunan Jurusan Hubungan Internasional. Aku sudah tak terlalu aktif karena aku sudah mendekati semester akhir sekarang. Pikiranku mulai tidak bisa diajak multitasking, jadi aku mencoba untuk fokus pada satu hal; wisuda.

Ya, sesekali aku masih hadir di acara jurusan tapi aku tidak ambil andil yang benar-benar penting. Sementara itu, Mas Bumi beralasan mau melihat ruang himpunan setelah dia tinggalkan lima bulan lalu--dia wisuda. Katanya, dia mau melihat apakah adik-adik tingkatnya mau berkontribusi untuk kerapian dan kebersihan ruang himpunan. Maklum, Mas Bumi kan pernah menjabat Wakil Ketua Himpunan dulu.

Bagaimanapun tempat yang bersih mencerminkan orang-orang yang tinggal di dalamnya, kata dia saat kami pulang nonton film seminggu lalu.

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Aku sudah duduk di depan ruang Himpunan selama dua jam. Semestinya Mas Bumi sudah di jalan sekarang, karena kantornya bubar sejak satu jam yang lalu. Apakah dia mampir ke tempat lain dulu? Namun, dia tidak mengabariku sama sekali. Aku mulai bosan.

"Eh, ada Mbak Gizka," sapa seorang adik tingkat yang rambutnya panjang bergelombang. "Kenapa duduk di depan, Mbak? Enggak masuk?"

Setahuku, dia punya band dan berposisi sebagai vokalis sekaligus gitaris. Namanya Maya, yang dua tingkat di bawahku. Aku juga tak tahu kenapa dia bisa mengenalku padahal aku sudah tidak aktif di Himpunan. Kalau alasanku mengenal dia tentunya sudah jelas. Dia kan perempuan yang menarik dan punya suara seperti magnet. Gaya bermusiknya mirip Taylor Swift, atau mungkin dia memang penggemarnya. Aku menonton penampilannya saat Inagurasi tahun lalu.

"Lagi nungguin siapa, Mbak?" tanyanya lagi, kali ini sambil mendudukan diri di sebelahku. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah permen rasa anggur. Lalu, dia mengulurkannya kepadaku dan, "Nih, buat Mbak Gizka."

"Thank you," kataku, ramah.

Aku dengan senang hati menerimanya karena mulutku sudah kering. Seharusnya tadi aku mampir ke kantin fakultas untuk membeli es krim atau camilan lainnya sebelum menunggu di sini.

"Mbak Gizka itu deket banget sama Mas Megan, ya?" tanyanya.

Aku baru sadar kalau semua pertanyaannya belum kujawab. "Iya, udah kenal dari masih maba. Aku tahu baik-berengseknya dia."

Maya tampak terkejut. "Enggak ada rencana lebih dari teman, Mbak?"

Aku tertawa renyah. "Itu enggak akan mungkin," sahutku, kemudian memasukan permen rasa anggur itu ke dalam mulut. "Aku tahu batasan."

BUMI & EVAKUASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang