✨✨
Pertengahan Januari 2018
"Hah? Apa, Mbak?"
Mbak Davina yang tinggal di lantai satu pun menyerahkan sebuah kotak kardus berukuran sedang kepadaku. Dia bilang kalau ada kurir datang ke kos dan menyerahkan sebuah kotak kardus atas namaku; Claudia Gizka Di Inaranti. Padahal, aku tidak beli apa pun secara online.
Sebulan terakhir ini memang tidak beli apa-apa, tapi sebelumnya pernah beli baju-baju cantik untuk kuliah supaya ada variasi. Ingat, ya! Bagiku, kuliah itu bukan hanya menuntut ilmu, tapi juga bisa menjadi sarana melebarkan sayap. Kalau kalian berpenampilan menarik, relasinya juga akan luas.
"Mas kurirnya ganteng, lho, Giz," kata Mbak Davina dengan wajah berseri, yang bagiku sangat tidak penting. Aku tidak peduli. "Tapi, gayanya enggak kayak kurir, sih. Dia pakai jaket jins yang warnanya udah kusam gitu, celananya juga jins selutut, terus... dia pakai kacamata ireng. Ganteeeeeng pooool."
Aku tidak fokus dengan penjelasan Mbak Davina karena aku sibuk menerka-nerka apa isi kotak ini. Bagaimana kalau kiriman fiktif yang berujung penipuan? Kemarin aku sempat baca di Twitter, katanya banyak modus penipuan dengan cara seperti ini. Aku tidak mau menjadi salah satu korbannya.
Duit masih minta orang tua, pacar juga belum punya. Ada calonnya sih, tapi dia masih membuatku bertanya-tanya. Terkadang tampak sangat suka, terkadang hilang tak tahu ke mana. Chat pun suka datang-hilang. Memakai alasan kesibukan, tapi aku tetap kebingungan. Meskipun kata orang, dia suka aku.
"Makasih, Mbak," responku singkat, kemudian melangkah menaiki anak tangga untuk ke lantai dua.
Beruntungnya tidak ada Mbak Ditta, jadi aku bisa langsung masuk kamar dan membuka kardus itu. Kalau ada tetangga kosku itu, aku akan ditanyai tentang Megantara sampai ke akar. Sepertinya, Mbak Ditta sudah terkena umpan yang dilemparkan oleh Megantara. Aduh, aku jadi bersimpati. Megantara itu tidak akan serius, dia hanya suka menebar umpan dan membiarkannya begitu saja. Korbannya sudah banyak, dan kebanyakan tidak suka padaku. Mereka beranggapan, aku adalah hama yang selalu menempeli Megantara. Nyatanya, justru kebalikannya. Megantara yang tidak bisa tanpa aku.
Aku melempar totebag gambar Gemini-ku ke atas kasur, kemudian mengambil gunting untuk membuka kardus yang aku letakan di atas meja belajar. Ukurannya sedang, jadi isinya pasti bukan benda yang besar. Aku berharap dapat dispenser--walaupun aku tak tahu siapa pengirimnya--kalau memang rezeki. Aku belum punya dispenser di kos, padahal aku suka haus kalau terbangun malam-malam.
Mataku melebar begitu melihat isi kotak tersebut, yang ternyata adalah bermacam-macam cokelat. Tidak bohong, senyumanku segera merekah seperti bunga sakura di Musim Semi. Ada produk cokelat lokal, tapi juga ada yang dari luar negeri.
Aku bukan pemilih, pasti akan kumakan semuanya.
Beres membuka kotak kardus, aku pun mulai bertanya-tanya akan siapa yang mengirimkan cokelat sebanyak ini kepadaku. Tak ada surat atau kertas bukti pengiriman. Jelas, ini sebenarnya bukan dikirim oleh kurir. Ini dikirim langsung oleh pengirimnya.
Saat aku sedang kebingungan, ponselku bergetar beberapa kali. Tanda pesan masuk.
rakabuming jaelani: udah diterima?
rakabuming jaelani: hope u like it
rakabuming jaelani: permintaan maaf krn aku nyentuh pipi kamu pas camping di pantai :(
rakabuming jaelani: jgn marah lama-lama
rakabuming jaelani: aku bingung :(
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI & EVAKUASI
Fanfictie[Original Fiksi/🔞] - "Bukannya kamu yang bunuh dia? Kamu bilang, kamu mau membunuh orang itu untuk aku." (Brave Series #3) Jogja identik dengan hal-hal klasik, indah, dan romantis bagi banyak orang. Tapi, bagi Gizka, Jogja juga adalah rumah. Dia in...
