"PIWWIT, OYY ADEK," teriak Garet sembari berjalan melewati koridor bersama Lingkar. Mereka baru saja sampai di sekolahan. Garet melihat seorang gadis berambut sebahu sedang menyapu di depan kelasnya.
"Iya, ada apa Bang Lingkar?" tanya gadis yang diyakini adik kelas itu kepada Lingkar. Dia mengira Lingkar yang memanggilnya.
"Bukan gue yang manggil, tapi si Karet ini," jawab Lingkar menunjuk Garet.
Wajah gadis itu seketika langsung masam, dia kesal ternyata bukan Lingkar yang memanggilnya, melainkan Garet si playboy dengan segala rayuannya.
"Kenapa manggil gue?" tanya gadis itu kepada Garet.
"Gue cuman mau ngasih lo coklat." Garet mengeluarkan satu coklat koin dari saku bajunya. "Nih buat lo. Mau nggak lo jadi pa-"
"Sorry, Bang. Gue nggak mau jadi pacar lo. Bye," potong gadis itu langsung mengerti maksud dari ucapan Garet. Semua siswi Gardania sudah hafal betul bagaimana Garet yang setiap hari selalu menyatakan perasaannya. Bisa lebih dari sepuluh siswi yang menjadi mangsanya, tapi tak seorang pun mau menerimanya. Ya, wajar sajalah mereka menolaknya, siapa juga yang mau dengan playboy kelas piranha itu. Wajah pas-pasan saja kebanyakan gaya.
Gadis itu segera membalikan badannya cepat dan langsung masuk ke kelas dengan sapu lantai di tangannya.
"WOY! MAKSUD GUE LO MAU NGGAK JADI PANTAT GUE?! KEBANYAKAN GAYA LO," teriak Garet kesal. Walaupun sebenarnya bukan itu yang mau dia ucapkan, melainkan dia ingin menyatakan perasaannya lagi. Namun, gadis itu sudah tahu lebih dulu apa maksud Garet, menjadikan cowok itu gengsi dan memilih mengalihkan ucapannya.
"Udahlah, Ret. Lagian lo sebenernya mau bilang dia mau nggak jadi pacar lo kan?" tebak Lingkar.
Garet langsung menutup mulut Lingkar, takut jika gadis itu mendengarnya dan akan semakin kepedean. "Diem lu. Gue kan gengsi dia udah tau duluan apa maksud gue."
Lingkar menghempaskan tangan Garet dari mulutnya, benar-benar tangan cowok itu bau. Untung saja tidak bau telur, tapi tidak ada untungnya juga karena bau terasi. "Tangan lo bau, asin lagi. Pagi-pagi lo makan apaan sih?!"
Garet menyengir. "Oh, gue tadi pagi makan pake sambel terasi, Kar. Gimana baunya? Sedepkan?"
"Sedep pala lo!" kesal Lingkar, "udahlah sana cuci tangan. Jorok banget lu!" Lingkar langsung pergi meninggalkan Garet, tidak ada untungnya berlama-lama dengannya. Malahan bisa jadi cowok itu akan mengajak Lingkar untuk mencari mangsa selanjutnya. Lebih baik Lingkar segera menghampiri teman-temannya.
•••••
"Duh, gimana sih caranya bikin cewek nggak ngambek mulu. Gue pusing lama-lama," keluh Lintang sambil mengacak rambutnya frustasi. Seorang Lintang frustasi karena cewek.
Lingkar baru saja datang dan dia langsung mendengar keluhan dari Lintang yang frustasi karena cewek. Apa betina semenyebalkan itu?
"Lo tanyalah apa mau dia," ujar Devon memberi saran.
"Udah. Tapi jawabannya nyuruh gue peka. Heh, emang gue cenayang kali, ya."
"Emang lo nya aja yang kurang pro dalam menghadapi dunia percintaan," cibir Devon terkekeh.
"Emang cewek tuh kadang nyusahin," ujar Lingkar.
"Nggak gitu juga kali. Mungkin cewek ngambek bukan berarti karena ada masalah, tapi karena dia kangen," ujar Aje.
"Apa mungkin? Gue juga udah semingguan ini nggak ketemu," ujar Lintang.
"Mungkin."
"Katanya punya pacar yang lebih tua itu biar nggak nyusahin dan manja. Tapi nyatanya sama aja," ungkap Lingkar mengingat kata-kata Lintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
KeyLock
Novela Juvenil[ON GOING] Bagaimana jika kita dipaksa untuk menerima orang baru padahal hati kita belum siap menerimanya? Kisah percintaan masa lalu menjadi penyebab hilangnya kepercayaan kepada seseorang. Mencoba untuk mengistirahatkan hati, namun seseorang denga...
