Part 10: Dingin

24.8K 775 16
                                        

Selamat Membaca💞
.
.
.
.

Pukul 23.58 PM.

Sean sampai di Villa pada tengah malam. Kedua orang tuanya merayakan ulang tahun pernikahan mereka di Villa. Memang sudah kebiasaan mereka sejak masih pertama kali menikah.

Sean tadi berpamitan untuk pergi ke rumah teman untuk mengurus beberapa pekerjaan, Sean berbohong soal hal itu, Sean pulang untuk menemui Ella dan bercinta dengan gadis itu. Itu semua Sean lakukan karena Sean merindukan Ella.

Sean masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan. Tentunya satu kamar dengan Luna. Saat Sean masuk, ternyata Luna belum tidur. Perempuan itu sudah mengenakan dress tidurnya yang minim, bahkan baju itu tidak bisa menutupi seluruh dada Luna.

"Kamu baru balik Sean? Kamu bilang tadi cuma sebentar" Ucap Luna.

"Oh... Maaf, tadi mobil aku bannya bocor di tengah jalan, jadi lama" Jawab Sean berbohong.

"Kamu melewatkan makan malam sama Papa dan Mama. Mereka kecewa banget tadi, kita nunggu berjam-jam tapi hape kamu nggak bisa dihubungi sama sekali. Apa kamu bener-bener menemui teman kamu?" Selidik Luna.

Sean menoleh kepada Luna, perempuan itu menatapnya dengan penuh kecurigaan. Dan Sean benci cara Luna menatapnya. Seolah-olah Sean baru saja melakukan kesalahan yang begitu besar.

Sean mencoba menahan dirinya. "Lebih baik kamu tidur. Biar aku bicara nanti sama Papa dan Mama" ucap Sean sambil melepaskan sepatunya.

"Kamu bener-bener beda" Kata Luna.

Sean tak menjawab, lelaki itu mencoba menghindari percakapan dengan Luna. Sean juga mencoba untuk tidak tergoda dengan tubuh Luna. Luna sekarang sudah setengah telanjang. Sean mencoba mengingatkan dirinya kalau Ella sudah lebih dari cukup. Dan mereka baru melakukannya barusan.

"Aku pengen cepet punya anak" ucap Luna.

Sean menoleh.

"Aku ngerasa hubungan kita udah agak renggang sekarang, kita udah jarang ngobrol bareng. Aku nggak bisa biarin hubungan kita kayak gini" lanjut Luna.

"Kenapa mendadak bicara soal anak?" Ucap Sean tak suka.

"Karena itu satu-satunya cara Sean" jawab Luna.

"Cara apa? Kamu sendiri yang bilang waktu kita tunangan dulu, kalau kamu nggak mau punya anak, kamu mau menikmati masa-masa kamu menjadi pengacara dulu. Dan aku wujudin keinginan kamu, aku juga nggak pernah keberatan soal itu" Ucap Sean.

"Karena kamu beda Sean! Kamu beda!"

Sean bangkit. "Apanya yang beda! Pernikahan kita memang seperti ini. Dari dulu! Aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu. Jadi aku mohon jangan bertingkah, aku muak sama semuanya Luna. Aku muak!" Marah Sean.

Luna menatap Sean tak percaya, matanya berkaca-kaca.

"Kamu baru aja bentak aku?" Ucap Luna kecewa.

"Kalau kamu nggak suka aku marah, lebih baik kamu diam. Kamu ngerti?"

Sean beranjak pergi. Lelaki itu melangkahkan kakinya dengan kasar.

"Aku cuma pengen punya anak! Kenapa seberat itu? Kita udah menikah. Kamu cuma harus melakukan apa yang harus kamu lakukan. Apa seberat itu buat kamu?!" Ucap Luna, nadanya meninggi.

Sean berhenti lalu membalikan badannya.

"Kamu tidak menginginkan anak! Kamu cuma takut aku berpaling sama yang lain. Anak itu cuma alasan, jadi berhenti membicarakan soal anak! Karena kita nggak akan pernah mempunyai anak. Kamu paham!" Bentak Sean.

Obsessed With You #Seri 1 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang