06 - Hak Setiap Makhluk

495 51 10
                                        

Bukan tak mau jatuh cinta, hanya saja rasanya cinta hanya akan menjadi penghalang dalam berjalannya kehidupan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukan tak mau jatuh cinta, hanya saja rasanya cinta hanya akan menjadi penghalang dalam berjalannya kehidupan.Unworthy

Kejadian beberapa saat lalu cukup membekas dalam memori Aiyla. Belum sempat mengambil jeda akibat terkejut dengan pernyataan Ozan, dirinya justru dibuat semakin syok karena nyaris terjatuh menerobos pagar jembatan.

Sejak tadi laki-laki bernetra hijau yang sedang duduk di sampingnya ini tak ada henti-hentinya mengatakan permintaan maaf. Padahal Aiyla sudah mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dirinya selamat, dan itu pun berkat Ozan.

"Aku nyaris mencelakakanmu, Aiyla."

Aiyla menoleh. "Lupakan saja. Aku baik-baik saja. Mau sampai kapan kau mengatakan ini?"

"Sampai penyesalanku menghilang," Ozan mencondongkan tubuhnya, menopang wajah dengan kedua siku yang ditempelkan pada tungkai atasnya kemudian menutup wajah. Berulang kali membuang napas berat. "Aku memang bodoh."

Jika saja sebuah pelukan bisa meredakan celotehan Ozan yang terus menyalahkan diri sendiri, maka Aiyla tidak akan menolak untuk melakukannya. Namun, setelah berulang kali menimbang-nimbang. Hasilnya Aiyla enggan. Dirinya tak ingin membuat Ozan lebih salah paham, apalagi terhadap pelukannya nanti. Alhasil, Aiyla hanya bisa mengusap bahu lelaki itu lembut.

"Jangan begitu. Kau tidak salah," ujarnya. "Mengungkapkan perasaan adalah hak setiap manusia yang memiliki hati. Dan kejadian setelahnya, kau hanya sedang hilang kendali. Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Ozan menjauhkan kedua tangan dari wajahnya untuk sedikit menatap Aiyla yang terlihat tenang meskipun nyatanya perempuan itu masih merasa syok.

Karena Ozan hanya tergeming sembari menatapnya, Aiyla yang dilanda rasa gugup pun berdeham untuk menormalkan dirinya. "Sepertinya aku harus segera pulang. Baiklah, bagaimana jika kau mengantarku pulang? Setelahnya mungkin penyesalanmu akan menghilang."

"Akan kucoba," balas Ozan seraya berdiri. "Tunggu di sini, aku akan membawa mobilku."

Pandangan Aiyla tertuju lurus ke arah sosok Ozan yang semakin hilang di telan keramaian. Mobilnya mungkin diparkir tak jauh dari restoran tadi, hanya perlu menyita waktu lima menit saja dengan berjalan.

Satu hal yang baru Aiyla ketahui, Ozan begitu mudah merasa bersalah.

***

Kepulan asap dari cangkir kopi yang baru saja diletakkan di atas meja kayu berbentuk bundar oleh seorang pramusaji membuat rasa penat dalam diri Daffa menguap. Ia mendekatkan wajah untuk sekadar menikmati aroma khas dari kopi tersebut setelah berterima kasih pada pramusajinya.

UNWORTHY [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang