[Seri 2 | Nuraga / Book2*]
"Kita pergi sekarang!" pekik lelaki itu.
Aiyla mengangguk tanpa ragu. Ia rasa, bersama lelaki ini akan jauh lebih aman daripada bersama keluarganya sendiri.
-
Harap yang tercipta akibat diselamatkan dan juga diberi kehidu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Entahmengapa, tetapi tiba-tiba saja Shahinaz memeluk Aiyla tepat di hadapan Gani dan Daffa. Kendati merasa bingung, Aiyla tetap membalas pelukan yang terasa seperti pelukan yang diberikan oleh seorang saudara. Begitu hangat, dan membuat Aiyla menyadari bahwa hal-hal seperti inilah yang selama ini ia inginkan ketika lelah menghadapi peliknya kehidupan.
"Aiyla! Sejak kau pergi, aku begitu merasa cemas. Aku takut ayah tirimu kembali mengirimmu pada orang-orang itu."
Tubuh Aiyla mendadak kaku, Shahinaz tidak akan tahu apa yang telah ia lalui saat baru saja sekejap jauh darinya.
"Kau mengenalnya?" tanya Gani, diangguki Daffa yang turut merasa bingung.
Shahinaz mengurai pelukan secara perlahan, ditatapnya sosok Aiyla, Gani dan Daffa bergantian. "Kau ingat aku pernah membicarakan perihal perempuan yang kubawa ke rumah lamaku?"
Gani mengangguk. "Ya, lalu?"
"Ini orangnya. Dia perempuan itu," ujar Shahinaz.
"Sebentar, sebenarnya ada apa sampai Aiyla ...."
"Daffa," Gani mengisyaratkan istrinya dan juga Aiyla untuk duduk. "Boleh kuceritakan, Nona Aiyla?"
Aiyla mengangguk. Toh, Daffa sudah mengetahui sebagian besar kisahnya.
"Suatu malam, setelah pulang mengunjungi salah satu pasien yang kurang mampu di rumahnya, Shahinaz secara tidak sengaja bertemu Aiyla. Katanya, dia dikejar pria hidung belang kenalan ayah tirinya. Lalu Aiyla menginap di rumah lama Shahinaz ...."
Gani terus menjelaskan semuanya menggunakan bahasa Induknya, agar lebih mudah dan leluasa saja tanpa membuat Aiyla merasa tersinggung karena membicarakan ayah tirinya terlalu jelas.
Daffa manggut-manggut mengerti. "Lalu, apa kakimu sudah baik-baik saja, Aiyla?"
Baik Aiyla, maupun yang lainnya merasa cukup terkejut karena Daffa justru mengkhawatirkan kaki Aiyla. Kendati begitu tak sedikit pun Aiyla melunturkan senyumannya. "Itu sudah baik-baik saja, mungkin."
"Aku butuh kepastian, bukan kemungkinan." Daffa menatap Aiyla tajam, tetapi sekilas.
Gani dan Shahinaz saling tatap curiga, beberapa saat dari itu mereka berdua tertawa kecil. Pasalnya, selama mereka mengenal Daffa, Daffa tidak pernah seperti itu kepada seorang perempuan. Jangankan memberikan perhatian berupa kekhawatiran, Daffa bahkan jarang sekali merespons ucapan seorang perempuan. Thecoldest captain, mereka dan orang lainnya memanggil Daffa demikian sangking cueknya lelaki itu.
Aiyla berdeham. "Itu—"
"Apa setelah dari sini kita perlu ke rumah sakit?"
"Ha?" Aiyla menatap Daffa tak menyangka. Reaksinya begitu berlebihan, sungguh. "A-aku ... Itu tidak diperlukan, Daffa."