[Seri 2 | Nuraga / Book2*]
"Kita pergi sekarang!" pekik lelaki itu.
Aiyla mengangguk tanpa ragu. Ia rasa, bersama lelaki ini akan jauh lebih aman daripada bersama keluarganya sendiri.
-
Harap yang tercipta akibat diselamatkan dan juga diberi kehidu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aiylaberdiri di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Memperhatikan pantulan tubuh berbalutkan kaus setengah lengan berukuran besar dan juga celana panjang. Sementara kini salah satu tangannya tengah mengepal sesuatu.
Fajar nanti Daffa akan pergi sesuai rencana lelaki itu. Dan mungkin saja pertemuannya beberapa saat yang lalu merupakan pertemuan terakhir mereka. Masih terdengar di rungunya bagaimana Daffa berulang kali memuji masakan yang telah Aiyla siapkan.
Tangan kanannya terangkat. Kepalan itu Aiyla buka, menunjukkan kalung lama yang masih terlihat sangat bagus. Kalung yang menjadi kesayangan Daffa. Aiyla sempat mendengar penjelasan mengapa kalung itu begitu berharga untuk Daffa. Membuatnya ingin menjaga apa yang telah Daffa percayakan.
Seulas senyum timbul sebatas ujung bibirnya, begitu samar dan hanya bisa Aiyla rasakan sendiri. Perlahan Aiyla melepas pengait kalung tersebut, kemudian mulai mengenakannya. Setelah terpasang sempurna, tangannya bergerak-gerak memainkan bandulnya satu per satu seraya menatap lurus ke arah pantulan cermin.
"Mengapa pertemuan kita begitu singkat, Daffa?" gumamnya. "Kebersamaan kita beberapa hari ini ibaratkan bagian prolog pada suatu kisah fiksi dalam novel. Terlalu singkat, juga terlalu bermakna. Namun, akankah ada bab-bab selanjutnya dari kisah yang kita jalani ini?"
"Kuharap ada," imbuhnya. "Berakhir di epilog dengan kebahagiaan yang dibagikan."
Aiyla menggelengkan kepalanya, menampar diri secara mental agar cepat-cepat tersadar dari apa yang telah ia katakan. "Dasar tidak tahu diri! Sudah dibantu, justru berpikiran yang tidak-tidak!"
Baru saja Aiyla hendak mengempaskan tubuh ke atas ranjang, ketukan di pintu sukses membuatnya mengurungkan niatnya. Aiyla mengambil ponsel, memilih bersikap waspada takut-takut yang datang bukanlah Daffa, Gani maupun Shahinaz. Setidaknya, begitulah pesan Daffa sebelum pergi sekitar dua jam yang lalu.
Aiyla berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Setibanya di sana, ragu-ragu dirinya mengintip melalui lubang doorviewer. Matanya membola terkejut, secepatnya ia membuka kunci dan menarik pintu. "Ada—"
"Apa ada seseorang yang datang sebelumnya?"
"Tidak ada," jawab Aiyla merasa khawatir. "Mengapa kau terlihat begitu gelisah?"
Daffa, laki-laki itu mengusap dadanya lega. Ia sudah kembali ke hotel beberapa saat lalu. Akan tetapi, ternyata ponselnya tertinggal di rumah Aiyla. Mau tak mau, ia pun kembali. Namun di ujung jalan menuju rumah ini, Daffa justru melihat sekumpulan pria yang sempat dirinya dan Aiyla lihat di perjalanan petang tadi.
Daffa mengira bahwa mereka mengikuti mobilnya sore itu, dan menyerang Aiyla setelah dirinya pergi. Nyatanya itu semua hanya bagian dari pikiran buruknya saja. "Apa kau yakin?"