03 - Penyerangan Adnan

760 47 17
                                        

Follow IG author, yuk.

_sitirubiah


Ankara, Turki

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ankara, Turki.

Benar-benar menyebalkan. Tak puas dengan hanya menamparnya, rupanya diam-diam Vural meraibkan uangnya ketika Aiyla terlelap di malam hari. Padahal, uang itu akan ia pergunakan untuk kebutuhannya selama kuliah.

Belum lagi, stok makanan pokok dan juga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya tak ada yang tersisa sedikit pun. Menjadi tulang punggung keluarga, sementara yang seharusnya berperan di posisinya justru sibuk menukar uang dengan minuman. Atau mungkin memberikannya sebagai bahan taruhan saat kalah berjudi.

Di meja makan hanya terhidang sepotong roti di atas piring kecil, itu pun pasti belum tersentuh siapa pun. Alhasil, secangkir tehlah yang Aiyla gunakan untuk mengganjal perutnya alih-alih mengambil potongan roti tersebut.

Tak berpamitan pada siapa pun, langsung saja perempuan pemilik kaki jenjang itu pergi dari rumah. Berjalan kaki menuju kampusnya seperti biasa.

Pagi ini ia hanya mengenakan kaus berlengan pendek berwarna cokelat, dipadukan dengan celana panjang berwarna lebih muda dari atasannya. Sebuah tas tercangklong pada salah satu pundaknya.

Saat baru saja turun dari tangga, keluar dari gedung flatnya, dengan tiba-tiba beberapa pria menghadangnya. Aiyla yang terus mundur pun membuat bokongnya berakhir mencium undakan tangga paling bawah. Ia tahu siapa pria-pria di hadapannya ini.

Dengan segera dan tanpa rasa takut Aiyla kembali berdiri tegak, menatap mereka cukup nyalang. "Ada apa lagi?"

"Semalam ayah tirimu kalah berjudi," ujar pria dengan wajah paling seram. Penampilan mereka begitu berantakan, jangan lupakan bau napas khas minuman keras begitu kuat tercium oleh hidung Aiyla. Membuatnya sedikit mengernyit karena tak tahan. "Dia belum memberikan uangnya. Katanya, aku harus meminta kepadamu."

Dada Aiyla refleks naik-turun karena amarahnya kembali tersulut. "Uangku sudah dicuri olehnya. Dan kau meminta uangnya padaku? Tuan, pergilah. Tak ada sepeser pun uang di kantongku!"

Salah seorang pria yang lainnya dengan kasar mencengkeram rahang Aiyla, lalu turun untuk mencekiknya. "Berikan uangnya atau kupastikan kau tiada!"

"Sialan!" umpat Aiyla geram. "Sudah kukatakan: tidak ada sepeser pun uang di kantongku! Pergi ke atas, dan minta saja uangnya pada si pecundang itu!"

"Berani kau padaku, ha?" Pria yang pertama kali mengajaknya bicara tadi menarik rambut Aiyla ke belakang. Membuat kedua mata perempuan itu secara spontan berkaca-kaca.

Dicekik dan dijambak membuatnya menderita. Berulang kali Aiyla terbatuk. Matanya terkatup. Tak lagi setelah tiba-tiba dirinya mendengar sebuah pukulan. Bukan mengenainya. Tetapi, rupanya seseorang baru saja memukul salah satu dari tiga pria tersebut.

UNWORTHY [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang