Lagi, dan lagi kami terduduk diam di pasir pantai memandang laut luas yang menderu kencang. Aku menoleh menatapnya yang duduk memeluk kedua lutut dengan pakaian yang bisa dikatakan membuatnya semakin tampan.
"Kamu tahu? Lautan itu sangat misterius. Bisa menenangkan setiap jiwa dan juga dapat mengguncang setiap jiwa." kembali lagi, selalu pembahasan laut yang akan ia bahas.
"Kamu tidak ingin menjelaskan setiap kalinat yang kamu ucapkan?" tanyaku kepadanya ketika ia tidak pernah menjelaskan setiap kalimat yang keluat dari mulutnya itu.
Lagi dan lagi aku selalu terpana kala ia menatapku dibalik kacamata hitamnya dengan senyum misterius sebelum mengalihkan kembali pandangan pada laut lepas yang selalu menjadi kesukaannya dibalik tatapan dukanya.
"Dia adalah sesuatu yang memberiku kenangan baik untuk pertama kali setelah aku melihat dan mempelajari dunia. Tapi, dia juga yang memberiku kenangan terburuk untuk kesekian kalinya saat aku sudah memahami dunia. Kamu tahu artinya?" tanyanya tanpa memandang ke arahku.
Aku menggeleng pelan dan aku tahu ia dapat mengetahuinya tanpa perlu repot-repot menatapku.
"Artinya lautan mengajarkan aku kehidupan. Dalamnya lautan dapat mengalahkan tingginya gunung tertinggi di dunia, luasnya lautan pun bisa mengisi seperempat dunia, isinya lautan pun bisa lebih berbahaya dari hutan yang berisi hewan buas dan dengan kehendak Tuhan pun kita akan dibinasakan oleh air di lautan."
"Lautan bisa menarik perhatian yang ada di darat, udara dan laut itu sekalipun. Semisterius itu, lautan diciptakan dan semuanya akan kembali pada ketenangan. Ia akan membuat suatu peristiwa, menengelamkan kapal atau menyeret pesawat untuk meledak di dalamnya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa."
Kepalaku pening, aku tidak mengerti apapun yang dia ucapkan. Dia menatapku dengan senyum lembut dan mengelus kepalaku dengan pelan.
"Pusing ya? Senja, kan sudah aku bilang kalau kamu tuh harus banyak belajar." dia terkekeh kecil yang membuatku memberengut kesal. Selalu seperti ini.
"Senja dengar, kalau aku buang bom kelautan maka bom itu akan meledak dan bunyinya, cipratan airnya, akan sampai ke daratan. Tapi, ketika kamu hampiri, ia bisa tenang dalam sekejap seperti tidak ada hal besar terjadi. Kamu tahu kenapa begitu? Karena lautan dipenuhi oleh air, air adalah zat yang menenangkan dan juga meresahkan."
"Kamu lempar batu ke dalam air, maka akan bunyi 'mplung' dan cipratan sedikit, lalu habis itu sudah, ia akan tenang seperti semula. Air bisa menahan, menarik dan mengambil apapun yang ia inginkan. Seperti air yang datang menghancurkan rumah" di daratan dan kembali tenang ke perairan dan lautan adalah titik kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa."
Aku tertegun melihat tatapan duka dan senyum suka cita yang tergambar di wajahnya. Bagaimana bisa?
"Senja, kalau semisal lautan mengambil aku dan mendekap aku terlalu erat, itu bukan berarti dia jahat, mungkin ia hanya ingin menyatukan aku kembali pada keluargaku dan juga ia menyanyangiku. Cukup kamu ingat itu."
Kali ini aku tidak mengerti dan dia kali ini menatapku dengan serius. "Dan jika, lautan kembali mendekap seseorang yang aku sayang. Mungkin aku akan hancur kembali dan tidak tahu bagaimana kembali utuh seperti dulu. Senja, jika lautan mendekap kamu, seperti layaknya ia mendekap dan menenggelamkan senja setiap hari--aku juga mau ia mendekapmu, namun mengembalikanmu kepadaku seperti senja sore hari. Tidak apa-apa walau sebentar, karena kehadiranmu dapat menenangkan deburan ombak yang memenuhi diriku."
"Senja, tenang ya. Aku akan menunggumu kembali di sini, di tempat kita menghabiskan waktu setiap hari dan membahas hal konyol yang selalu menjadi pertanyaan yang terdapat di kepala kecilmu ini."
"Aku tidak bisa janji, tapi aku akan berusaha untuk mendekapmu, bukan lautan yang akan membawa kesedihan mendalam. Cukup di sampingku, dan dengarkan ceritaku tentang betapa menakutkan dan menyenangkannya lautan."
"Tapi Senja, jangan pernah mencariku ya? Ketika lautan mendekapku, maka aku pastikan aku selalu mendekapmu dalam kehangatan dan dinginnya air dari dasar."
"Aku tidak mengerti."
Dia terkekeh dan bangkit dari duduknya. Mengulurkan tangannya kepadaku setelah membersihkan pakaiannya. "Ayo, pulang. Senjanya sudah usai dan malam akan menyambut datang. Besok kita akan kembali dan tidak perlu memikirkan apa yang aku katakan. Karena, aku mencintaimu sedalam lautan dan seluas lautan yang tidak pernah kita tahu aslinya. Dan cinta kita juga seberbahaya isi lautan yang kita tidak tahu isinya. Dan dengan kehendak Tuhan juga kita dipertemukan dan dijadikan sepasang tanpa ada keinginan untuk melepaskan."
"Sudah, aku tidak mengerti. Intinya kamu mencintaiku, bukan?" tanyaku yang sudah kembali memijat pelipis.
Kekehan kecil terdengar dan dekapan hangat terasa, "Ya, yang harus kamu tahu kalau aku akan selalu mencintaimu," dan kecupan di dahi.
"Aku juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Whelve
ŞiirTulisan-tulisan klise yang datang pada saat yang tidak tepat, dan terlintas begitu saja. Ungkapan hati yang sudah hitam, gelap dan tak ingin seorang pun tahu apa yang ia rasakan, kecuali dari tulisan diam-diam. 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎...
