11. ALONE

11K 511 1
                                        


-

-

-

-

11. ALONE

ALTHAIR menatap pintu ruang UGD dengan perasaan resah juga khawatir. Kedua tangannya menangkup wajahnya, dia merasa sangat bersalah kepada Keana.

"Van gimana keadaan Keana ?" Kirana bertanya dengan nada khawatir yang terselip di pertanyaan. Jelaslah dia khawatir, ketika baru saja pulang ke rumahnya tetapi dikabarkan jika Kea Kecelakaan. Keringat bercucuran di pelipisnya.

Padahal rasa kantuknya sudah menyerangnya ditambah dengan rasa lelah. Tetapi Kirana harus memaksakan dirinya menjenguk keadaan Keana.

Gevan mendudukkan dirinya, "Gua gatau, tapi tadi dia lukanya parah banget" Kirana semakin khawatir mendengarnya.

Retinanya tak sengaja menangkap Althair yang tengah terduduk di pojok dekat tembok, tepat bersebrangan dengan pintu ruang UGD. Senyum miring terpampang di bibirnya, dengan tangan yang terkepal kuat.

Gevan melihat arah pandangan saudari sepupunya itu. "Gausah bikin ulah lagi, temen lu lagi sakit" peringat Gevan , sudah hafal ketika melihat Kirana yang mengepalkan tangannya.

Kepalan tangan Kirana melemas, "Bener-bener brengsek, bejat, Gua janji abis ini, gua gak akan biarin tuh anak temuin kea lagi" Gevan menggeleng, "Serah lu dah"

Pintu ruangan UGD terbuka. Dr,Zidan keluar dari ruangan UGD bersamaan dengan brankar yang di dorong dengan seorang gadis yang menutup matanya tengah tertidur di atas brankar. Kirana menatap sendu Kea begitu juga dengan Althair.

"Gimana bang keadaan kea ? Dia gapapakan ?" Buliran air mata keluar dari matanya. Tubuhnya seperti jelly, saat melihat kondisi Kea separah tadi. Kirana terduduk di lantai Koridor rumah sakit.

Dr.Zidan menghela nafas, "Kamu bisa ikut ke ruangan saya" Gevan mengulurkan tangannya, membantu Kirana yang masih terduduk di lantai dengan air mata yang terus berjatuhan.

"Udah gausah cengeng, mending lu ke ruangan Dr.zidan" Kirana merengut kesal ketika mendengar Ucapan Gevan. Tangannya mengusap air mata yang menetes dengan kasar, lalu menepis tangan Gevan. "Gausah gua bisa sendiri" Ketusnya lalu berjalan melewati Gevan, tetapi langkahnya terhenti di depan Althair yang menatap kosong.

Senyum miring terlukis di bibirnya, apalagi ketika melihat kondisi Althair yang cukup dibilang 'tidak baik-baik saja' tapi walau begitu, rasa amarah dan niat balas dendam kepada lelaki itu tidak akan berkurang malah semakin membesar untuk membuat lelaki itu menderita. Memang terdengar kejam, tapi ini belum seberapa dengan temannya yang dirasakan selama ini.

Kirana menepuk bahu Althair beberapa kali, "semoga lu senang dengan keadaan kea, jadi gaada yang ganggu lu lagi, atau bahkan merepotkan lu lagi, tenang aja itu gak akan terjadi lagi, dan gua akan Pastikan itu Al" Kirana berbisik di telinga Althair. Lalu di akhiri dengan senyuman mengejek, setelahnya meninggalkan Althair yang berdiri kaku.

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang