29. ALONE

9K 376 4
                                        


Now suddenly you're asking for it back
Could you tell me, where'd you get the nerve?
Yeah, you could say you miss all that we had
But I don't really care how bad it hurts
When you broke me first
You broke me first

Took a while, was in denial when
I first heard That you moved
on quicker than I could've ever, you know that hurt Swear for a while I would
stare at my phone just to
see your name
But now that it's there, I don't
really know what to say

~You Broke Me
First 🎧🎶

' Manusia akan melupakan
Seribu kebaikan, karena satu kesalahan.
Apa itu benar ?,'
-s


29. ALONE

AWAN hitam memenuhi langit, Panas matahari yang terik bergilir dengan Angin sepoi-sepoi tetapi menusuk kulit. Tetesan hujan yang berasal dari langit turun ke Bumi, bersiap menyiram Bumi dengan airnya.

Remaja perempuan dengan kursi rodanya menatap ke langit, di tengah-tengah lapangan dekat rumahnya. Matanya melihat ke atas dengan menodongkan tangannya, Bersiap ingin menumpahkan tangisan yang selama ini selalu ditahannya.

Sudah berapa kali terhitung dia seperti ini, satu ... Dua ..... Eum mungkin banyak. Perlakuan Starla, dan Kia terhadapnya memang sudah sering.

Kilat petir bersaut-sautan. Air yang membasahi bumi juga sudah mulai banyak. Lapangan itu hanya diisi olehnya saja, tidak ada orang lain di sana. Palanya menunduk, membiarkan hujan membasahi kepalanya.

"Udah acara galau-galau nya ?," Itu suara laki-laki dan Ia mengetahuinya. Namun, buat apa dia datang setelah membuat ulah ? Belum cukupkah membuatnya menderita ? Palanya masih menatap kakinya yang polos tanpa sendal atau bahkan sepatu.

Terdengar helaan nafas kasar, "Mau ikut gua ? Di sini dingin. Nanti lu sakit," Ia tertawa renyah mendengar penuturan lelaki itu, lalu mendongak dengan air mata yang membanjiri pipinya. Apa dia liat air matanya ? Sudahlah itu tak penting.

"Sejak kapan Kak Javas perhatian sama aku? hah ? Kakak mau jebak aku lagi kan ? Aku tau kak. Sudah cukup, aku lelah terus di pojokkan seperti ini entah di sekolah atau di rumah. Kakak belum liat aku cukup menderita ? Tanpa kakak berulah juga aku sudah menderita. Kenapa ? Karena aku selalu di bully di sekolah sebelum itu." Teriaknya, dengan mata memerah bekas tangisan. Tangannya terkepal kuat,seperti siap untuk membogem muka laki-laki itu setiap saat.

Hening

Tak ada tanggapan dari lelaki itu, hingga suara tawa kencang karena suara hujan yang turun membuatnya suara itu sedikit tidak terdengar.

"Kenapa ketawa ? Sinting. Dasar laki-laki brengsek, Gak punya otak, Gila." Tidak, Javas tidak Marah melainkan malah tertawa semakin keras. Ia pikir jika lelaki itu memang sudah gila, huh menyebalkan ! Buat apa dia berbicara dengan lemak gila seperti nya ? Menghabiskan waktu saja.

Kurus rodanya berputar ingin berputar balik tujuannya meninggalkan Javas seorang diri di sana namun dia kalah cepat, Lelaki itu lebih dulu menahan kursi bagian rodanya menggunakan kaki, menatapnya dengan menunduk.

"Ayok, katain gua lagi sampai lu puas. Gua marah ? Enggak, justru gua seneng." Perempuan didepannya menggeleng tidak mengerti dengan pola pikiran nya.

"Kakak kenapa sih ? Sakit jiwa ? Mana ada orang dikatain seneng."

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang