20. ALONE

11.4K 454 2
                                        

20

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

20. ALONE

kini akhirnya semua orang yang berada didekatku satu-persatu mulai pergi dan menjauh. Tidak ada lagi tempat sandaran, berbagi cerita, dan menyemangatiku untuk tetap hidup.

Mungkin mereka memilih menyerah, karena mereka tau tidak ada gunanya memilih menetap di sampingku. Aku sendiri, aku benar-benar sendiri sekarang.

Mah, aku kangen mamah yang dulu, yang selalu mendekap aku ketika aku ketakutan. Aku kangen papah yang selalu memanjakan aku, dan mengajak aku pergi jalan-jalan.

Kemana kalian yang dulu ? Kenapa kalian yang saat ini sangat berbeda ? Begitu kejam.

Dunia memang tidak adil bagiku. Kenapa aku dibiarkan seperti ini ? Apakah tidak cukup aku memiliki penyakit mematikan ? Setidaknya kembalikan orang-orang yang dulu. Aku benci kehidupan, aku benci takdir.

Namun .....

Aku tau aku tidak akan bisa menghindari takdir. Aku hanya bisa terus menjalankan kehidupan ini seperti sungai yang mengalir, mengikuti kehidupan dengan kuat.

Badannya bergetar, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Isak tangis mulai keluar dari mulutnya, sebagai penanda jika dia sedang sedih. Saat itu bel pulang sudah berbunyi namun, ia masih berada di kelas.

Mungkin menetap di sekolah hingga menjelang malam adalah pilihan yang terbaik. Soal kejadian tadi pagi, dia sudah menduga jika Starla akan menemuinya dan ternyata benar dugaannya.

Bahkan wanita itu tak segan-segan untuk membunuhnya jika dia melakukan hal itu lagi.

Kelopak matanya membengkak, hidung dan matanya kini memerah. Buku diary itu ditutup dengan rapat.

Kelas ini sudah sepi, bangku-bangku diletakkan di atas meja. Walau hari sudah mau menjelang malam, tapi itu tak membuatnya takut di dalam kelas sendirian.

Drttttt
Drttttt

Haruskah dia menjawabnya ? Itu telfon dari Starla.

Kea sedikit ragu untuk sekedar memegang ponsel saja, firasatnya mengatakan terjadi hal buruk jika dia mengangkat, namun lebih buruk lagi ketika dirinya sendiri tidak mengangkat.

Telfon itu mati, silih berganti dengan nama Dirga yang terpampang di layar.

Keringat semakin bercucuran. Tangannya bergetar untuk menekan tombol ikon Hijau.

"Ha-Hallo ?"

"Pulang kerumah !!"

"I-iya"

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang