.
.
.
.
.
.
37. ALONE [BULLY]
KEADAAN sekitar telah lengang, sisa para pelayan saja yang masih sibuk membereskan rumah bernuansa mewah. Kedua orang pria -Kenzo dan Zidan- berusaha mencari keberadaan Kea yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya.
Sedangkan ini sudah jam sebelas malam, Rasa khawatir mendominasinya. Terus saja merapalkan doa, agar keadaan orang yang dicarinya sejak dua jam yang lalu baik-baik saja.
Merasa lelah, pria itu duduk sejenak di Soffa. Menerima kopi buatan pelayan yang memahami situasi ini. Tak dikit juga dari penjaga rumah mencari keberadaan Keana. Namun tak kunjung ditemukan.
Zidan menepuk pundak Kenzo, melihat wajah sahabatnya yang cemas. "Saya yakin Kea gapapa, mending tidur. Sekarang udah jam setengah dua belas." Perintahnya.
Namun bukan Kenzo namanya jika tidak keras kepala. Pria itu tetap pada pendiriannya untuk mencari adiknya hingga menemukan keberadaan nya, walau tidak tidur semalaman.
"Gimana sudah ketemu ?," Tanya Zidan menatap beberapa orang satpam satu-persatu yang berdiri.
"Maaf Pak, kami sudah berusaha mencarinya." Zidan mengangguk mengerti, mau bagaimana juga dia tidak bisa memaksakan mereka untuk terus mencari, karena hari yang sudah larut. Ia mengucapkan kata Terimakasih.
Kenzo berdiri meninggalkannya, "Mending istirahat dulu, Kau udah cape kaya gitu. Apalagi abis pulang dari Prancis."
---
Kehebohan terjadi pagi ini di Rumah Kiara, berawal ketika salah satu satpam membuka gudang untuk mengambil barang-barang yang diperlukan, membantu membersihkan ruangan depan yang kotor. Namun yang pertama kali dilihatnya adalah seorang wanita yang memakai gaun putih -sebagian sudah terkena darah- beberapa bagian berwarna merah tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan.
Kiara menutup mukanya, membiarkan sang suami mengelus punggung nya yang bergetar. "Bagaimana ini ? Cucuku .... Aku tidak akan membiarkan Orang yang menyebabkan cucuku seperti itu kabur begitu saja." Isaknya, tidak berani melihat Kondisi Keana yang dipenuhi darah. Terutama bagian kepala.
Kenzo yang baru saja bangun tidur terlihat terkejut, ketika mendengar kabar dari Zidan jika Adiknya telah ditemukan, namun kondisinya tidak baik-baik saja. Membuat rasa khawatir menyergapnya, "Ommah, Kenapa dengan Kea ? Bagaimana bisa ... ?" Tangannya mengepal, menatap Langit-langit atap kamar mencegah agar bulir air tidak membasahi pipinya.
Para penghuni di sana hanya bisa berdiam diri sambil menunduk, melihat dokter yang masih membersihkan luka-luka Kea dengan hati-hati.
Kenzo keluar dari sana, langkahnya kian melebar. Menjauhi tempat keramaian, memastikan tidak ada orang disini. Benda pipih yang baru saja dikeluarkan dari saku celananya, diletakkan di samping telinga. Menunggu sang lawan bicara, masih menampakkan tulisan dering .
" Lama sekali, Saya ingin kamu mencari pelaku yang telah mencelakai adik saya ! Jika sampai sore ini tidak ada laporan, siap-siap saja kamu akan saya pecat. Oh ya, biasakan untuk angkat telfon lebih cepat, sebenarnya yang bos ini saya atau kamu ? Buang waktu saya saja." Belum sempat menjawab, Kenzo lebih dulu mematikan panggilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[3] ALONE [END] ✓
Ficção Adolescente[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT] Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil. Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
![[3] ALONE [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/263037129-64-k35671.jpg)