[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
59. ALONE
"Mah, ak-u bisa liat lagi mah." Kia tersenyum dengan berteriak histeris, Starla tak kalah bahagia dia mendekapnya dengan erat. Sedangkan Dirga dan Heri yang melihat itu tersenyum.
Kiana segera menyambar cermin yang diberikan Dokter. Namun, cermin itu segera dibanting ke lantai. Kepalanya menggeleng, suasana berubah menjadi mencekam. "Mah, aku gamau mata ini. Lepasin dari aku, AKU GAMAU MATA INI MAH."
Heri berlari mendekati putrinya, "sayang kamu kenapa ?"
Kia menatap kosong, sambil menjambak rambutnya. "Kea, dia Keana, aku gamau mata ini. KEANA KENAPA LU LAKUIN HAL INI, gua gamau mata ini." Starla yang tidak paham dengan kondisi anaknya, segera meminta dokter untuk memeriksa kondisinya.
"Ibu, mohon tunggu diluar sebentar."
Pintu tertutup, namun masih terdengar suara teriakan Kiana yang memenuhi ruangan hingga pada akhirnya menjadi sunyi. Tak lama dari itu, Seorang Dokter keluar.
"Untuk saat ini, anak ibu kami suntik dengan obat bius. Akan sadar dalam beberapa jam lagi." Starla mengucapkan Terimakasih dan membiarkannya pergi menjauh dari ruangan.
Heri menenangkan istrinya yang terlihat gelisah.
Disamping itu Dirga merasa aneh dengan perkataan Kia tadi yang menyebut nama Keana. Hingga kini teringat pertemuan nya dengan Keana tadi pagi, badannya berdiri dengan kaku. Keringat dingin mulai bercucuran, menggeleng berusaha menepis pikirannya. Siapa sangka, jika yang dipikirkan pria itu adalah kenyataannya. Keana mendonorkan matanya untuk Kiana
Dirga berlari menjauh dari sana secepat mungkin, mencari keberadaan Keana. Dia benar-benar yakin jika gadis itu masih ada di tempat ini. Dirga benar-benar merasa bersalah berkata hal-hal yang menyakitkan pada adiknya sendiri.
Selama ini Dirga buta, telah dibutakan dan dihasut oleh perkataan Kiana. Namun, ini tidak sepenuhnya juga salah Kiana ini salahnya juga yang lebih percaya perkataan adik tirinya ketimbang adik kandungnya sendiri. Dirga benar-benar merasa frustasi.
Ketika benar-benar merasa putus asa, mencari selama berjam-jam ini namun tidak menemukan keberadaan nya juga ia duduk dibawah pohon. Menutupi matanya dengan tangan karena sinar matahari.
Sebuah botol menempel pada pipinya, ia mendongak menyipitkan matanya untuk memperjelas siapa pelaku yang memberikannya air. Terlihat Pria berkaus hitam, dengan Wajah kakunya. Tidak salah lagi, itu adalah Pria yang bersama Keana Pagi tadi. Sontak Dirga segera berdiri, "Dimana Keana ?"
Alisnya terangkat satu, Andre benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran bocah SMA didepannya ini. "Peduli apa Kamu sama adik saya ?"
Dirga berdecih, "Adik ? Lu siapa dia sih ? Simpanan ?"
Andre melempar botol yang masih belum diminum sedikitpun kedalam tempat sampah, melangkah lebih dekat. "Ulangi perkataan lu tadi !" Perintah Andre dengan pelan.
Dirga meneguk salivnya, aura pria ini benar-benar seperti Kenzo bahkan lebih menyeramkan. Sebenarnya dia ini siapa sih ?
"Gua tanya dimana Keana ?" Teriak Dirga.
"Maaf, Saya gak akan memberi tau keberadaan Nona Keana kepada orang asing." Dirga benar-benar tidak mengerti dengan Pria didepannya, tadi bilang adiknya sekarang malah menyebut Keana sebagai 'Nona'.
"Gua Abangnya, tolong kasih tau gua keberadaan Keana."
"Saya katakan sekali lagi, Saya tidak akan memberi tau keberadaan Nona Keana." Dirga mulai tersulut emosi, berbicara dengannya membuatnya frustrasi.
Padahal niat Andre kesini hanya untuk memberinya sebotol air karena disuruh oleh majikannya, namun sepertinya Niat baiknya telah di sia-siakan. Andre berbalik, lebih baik segera menikah sebelum terlepas kendali.
Dirga menahan tangannya, "Dimana Kea-"
Satu pukulan mengenai Wajahnya, beruntung jika tempat ini sepi. Dirga jatuh ke rumput, sambil meringis merasakan perih di bagian kepalanya. Andre menghela nafas, merasa pasrah. Pasti setelah ini Keana akan menceramahinya lagi.
Ketika ingin melayangkan tinjuan lagi, sebuah teriakan yang sudah tidak asing di indera pendengaran mereka terdengar. "Cukup Bang Andre." Seorang Remaja perempuan terlihat, berada tidak jauh dari keberadaan keduanya. Matanya sembab, Dirga dapat menebak jika dia sehabis menangis.
Ketika menyadari tatapannya yang kosong, Dirga merasa kecewa dengan dia sendiri yang bahkan tidak bisa menjaganya dengan baik. Ia memeluk Keana, dengan erat. "Maaf." Bisiknya disamping telinga. Badannya bergetar, Keana mengangkat tangannya ketika Andre ingin mendekat. Dia memberi isyarat padanya agar memberi ruang pada mereka berdua.
Perlahan-lahan Ia membalas pelukan Dirga, entah apa yang sudah dialaminya namun Keana merasa bersyukur.
"Maaf, Bang Dirga selama ini selalu kasar sama Keana. Gak pernah jadi Abang yang baik buat kamu, justru sering banget nyakitin mental dan fisik kamu. Mungkin kata maaf gak cukup untuk menghapus semuanya. Jadi, sebagai permintaan maaf dan nunjukin niat Bang Dirga yang tulus semua permintaan kamu bakal Abang turutin." Sorot mata Keana melembut, dia menitikkan air matanya. Terharu, waktunya belum terlambat untuk Dirga meminta maaf.
Namun hal ini sangat disayangkan, kenapa Dirga meminta maaf disaat yang tidak tepat. Ketika beberapa jam lagi Keana akan menjalankan operasi ? Ini benar-benar mengecewakan nya. Namun apa boleh buat ? Keinginannya sudah tercapai, dia tidak mungkin menyalahkan Dirga karena pria itu terlambat menyadari kesalahannya.
Melihat Keana yang hanya diam saja, Dirga berdiri menatap adiknya yang duduk dinkurid rodanya. "Kenapa ? Pasti kamu gamau maafin ya ? Gak apa-apa. Abang juga ngertiin,"
Sepasang tangan mengusap air matanya, ia menundukkan kepalanya. Keana tersenyum, "Kok bilang gitu ? Justru Hari ini yang paling aku tunggu-tunggu."
"Lalu ?" Dirga menggaruk tengkuknya lalu mengalihkan pandangannya. "Sial, cengeng banget gua." Bisiknya, pada diri sendiri.
"Kea ... " Nada suaranya berubah menjadi parau.
"Ya ?"
Kedua matanya terpejam, dengan tangan terkepal takut tebakannya adalah kebenaran. "Apa kamu mendonorkan Mata kamu untuk Kia ?"
Keana terkejut mengetahui hal itu, namun ia tetap tersenyum. "Iya," tangannya meremas rok dengan kencang.
Lagi dan lagi Dirga menangis, "Kenapa ?"
"Kenapa ya ? Aku juga mempertanyakan hal ini, kenapa aku mau gitu aja ngedonorin mata aku." Tangannya terangkat, merasakan angin yang membelai telapak tangannya. "Kalau aku jawab, agar kalian bahagia ? Aku tau ... Sumber kebahagiaan Kalian itu Kia bukan Aku."
Dirga terjatuh, berlutut di atas rumput-rumput. Menangis dengan menutupi wajahnya.
"Sudahlah, Bang Dirga gak perlu nangis. Semuanya gak penting, gak ada yang harus ditangisi. Percayalah, aku baik-baik aja." Keana mengulurkan tangan, mengusap kepalanya dengan pelan.