[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
35. ALONE
"Hebat ya kamu, setelah putus sama Althair kamu langsung sama cowok lain." Kini suasana kian memanas, Kea memantapkan dirinya melirik Althair sebentar. Mukanya memerah.
Ia membuang pandangan ketika tatapan bertemu dengan Althair. Terus saja menghindari kontak mata dengan laki-laki yang bahkan sudah menorehkan luka padanya. Tak puas dengan situasi ini, wanita itu menambahkan lagi. "Aku kira kamu cewek baik-baik. Kemana aja kamu gak pulang-pulang ? Gak sekolah lagi." Cibirnya.
Ingin sekali mengoyakan mulutnya itu, namun keberanian nya hanya sekecil biji jagung. "Aku ? Maaf aku udah pindah sekolah Kia, lagipula aku mau mandiri aja. Ya ini pacar aku, namanya .... Teo," Teo tidak tau apa maksud dari perkataan Kea. Yang jelas nampak ekspresi takut setelah mengatakannya.
Di samping itu Althair mengeratkan genggamannya pada saudara perempuannya dengan sengaja. Seolah memahami situasi ini Teo mengajaknya pergi dari sana, walau aslinya dia adalh pihak yang diseret ke dalam masalah ini. "Kalian belum mau pulangkan ?, masa baru ketemu mau pulang aja. Kamu gak kangen sama aku kak kea ? "
Tangan Teo yang ingin membawanya pergi dari sana di tahan olehnya, "Maaf Kia aku sibuk." Bohongnya,terus berusaha menghindar dari kontak mata Althair yang mengawasinya membuat risih.
"Udah kan ?, kita pamit dulu." Kia mendesis kesal, melihat Kea yang sangat santai ketika mengahadapinya tidak seperti dulu. "Kamu liatkan Al ?, dia bukan cewek baik-baik. Genggaman tangannya dilepas, bergerak maju melangkah ke depan tidak menghiraukan perkataanya.
Dia benar-benar sangat tidak suka jika Althair memperlakukannya seperti ini. "Al tunggu !" Serunya dengan keras.
Sengaja Teo memilih tempat yang lebiih sepi dari sebelumnya. Palanya terus saja menunduk sejak tadi, rasa cemas timbul jika Teo memarahinya karena telah menyeretnya ke dalam masalahnya. Bukannya memarahinya, justru sebaliknya ia terlihat santai tak jarang menepuk-nepuk pundaknya.
"Kamu boleh lepasin rasa penat kamu disini. Tadi cewek itu adik kamu ? kok songong banget sih."
"Mau sesongong apapun dia, dia tetap adikku. Ngomong-ngomong Bang Teo gamarah soal tadi ?" Teo tertawa kecil, setelah menyadari perilakunya Pria itu berdehem. "Marah ?buat apa ?"
"Ya, karena aku udah menyeret Bang Teo ke dalam masalah ini."
---
Dessi keluar dari kamar mandinya selepas membersihkan tubuh, itu karena toiletnya rusak. Ekspresi wajahnya tidak terlihat baik-baik saja. Tangannya melempar segumpal rambut rontok ke kasurnya, Astaga Kea bahkan lupa menyimpan rambut itu karena segera pergi jalan-jalan selepas memasak.
Tidak ada suara yang keluar dari Dessi hingga ia memilih bicara lebih dulu, "Itu cuma rontok." sanggahnya.
"Gak mungkin kalau rontok biasa. Gak ada yang lu sembunyiin kan ?" Desak Dessi, menaruhkan kecurigaan. Mau bagaimanapun itu tidak masuk akal, karena ini bukan seperti rontok biasa.