46. ALONE

12.1K 466 54
                                        

46

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

46. ALONE [DIBULLY]

Suara monitor memenuhi ruangan yang sunyi ini, mengalun seperti lagu yang mengiringi setiap air mata yang membasahi pipinya. Tangannya dan Dirga bertautan satu sama lain.

"Bang, bangun." Mohonnya. "Mana hadiah yang mau Bang Dirga kasih sama Kea ? Bang Dirga udah janji sama Kea mau kasih hadiah. Tapi apa ? Ini hadiah yang Bang Dirga maksud ? Kea gak butuh Hadiah dari Bang Dirga, bahkan kasih sayang. Kea cuman mau Bang Dirga sehat."

Tidak ada balasan dari lawan bicaranya. Bibirnya terangkat keatas, mengusap air yang membasahi wajahnya. "Bang Dirga harus bangun ! Kea janji, setelah Bang Dirga bangun kita bakal kaya dulu lagi. Kea gak bakal cuekin Bang Dirga lagi, trus bawain bekal untuk Abang setiap hari." Bisiknya tepat disamping telinganya Dirga.

Hembusan nafas kasar keluar dari hidungnya, membuka ransel dan mengeluarkan makanan yang dibelinya. Lantas senyumnya semakin melebar, ia menghirup aroma makanan yang diletakkan di atas tempat makan.

Mulai memakannya sambil menatap langit-langit, "Masih inget gak ? Waktu dulu setiap hari. Kea selalu bawain bekal Roti isi telur untuk Abang ? Walau Bang Dirga nolak, pasti ujung-ujungnya dimakan." Melihat tidak ada sahutan, bibirnya mencekik memasukkan makanan besar tempatnya ke dalam Ransel.

"Kea pergi dulu ya, Nanti Bang Dirga harus bangun." Bisiknya tertawa kecil, meninggalkan ruangan yang selu dikunjungi olehnya tanpa absen selama seminggu terakhir ini.

Bram memapahnya untuk duduk, tidak tega melihat Kea yang selalu menangis. Bahkan dia sedikit kurusan, karena selalu mengurung dirinya di kamar.

Seminggu setelah kecelakaan Dirga dan Kia, sama sekali tidak ada tanda-tanda dari mereka untuk bangun. Berita buruk yang harus mereka dengar, Kia mengalami kebutaan karena kecelakaan itu.

Dia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan gadis itu jika bangun dan tau kalau dia tidak bisa melihat lagi.

"Bagaimana keadaan Kia ? Apa dia baik-baik aja ? ." Surya beralih berjalan disampingnya.

"Kemarin sore Dokter mengabarkan jika keadaan Kia semakin membaik, mungkin dua hari lagi dia akan sadarkan diri." Kea tersenyum lega.

Dia membenarkan kunciran rambutnya yang mengendur. Retina Matanya menangkap helaian rambut yang rontok, semakin hari rambutnya semakin tipis.

"Bram, aku minta tolong belikan rambut palsu yang kualitasnya benar-benar seperti rambut." Bram mengangguk, menandakan jika dia menerima permintaan nya.

Surya yang mengerti akan hal itu memberikan plastik putih yang berisikan rambut yang menggumpal, lalu meletakkan rontokan rambutnya ke dalam. "Kalian lihat ? Semakin hari rambut aku semakin menipis. Mungkin begitu juga dengan ajal aku,"

---


Ini delapan hari sejak kecelakaan Dirga dan Kiana. Javas memberikannya sepotong roti, akhir-akhir ini mereka menjadi dekat semenjak kejadian dirumah sakit waktu itu. Entah pria itu tulis atau hanya kasihan padanya saja, tetapi Javas benar-benar berubah. Namun bukan berarti Kea dapat percaya padanya, mau bagaimanapun juga ia sebagai wanita harus waspada.

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang