21. ALONE

10.1K 428 6
                                        

21. ALONE

"Siapa yang suruh kamu untuk sekolah ?" Suara menakutkan itu menghentikan langkahnya. Badannya hanya berdiri kaku membelakangi perempuan yang masih menatapnya dari belakang.

Tidak ada yang salah ketika ingin menuntut ilmu, seharusnya mereka sebagai orangtua bangga. Bukannya malah seperti ini.

Starla berjalan ke depan, mengangkat dagunya. "Rumor belum reda, dan itu karena ulah kamu, ayah kamu juga diincar para wartawan karena...." Jedanya, menampar pipi Kea hingga hampir terhuyung kebalakang. "Mulut kamu itu yang gak bisa dijaga"

Keana menunduk, palanya diangkat menahan tangisan yang ingin pecah.

Sebelum berucap, kea sempat menghirup nafas dalam-dalam. "Ayah ? Aku gak punya ayah, ayah aku udah hil-" Belum sempat menyelesaikan perkataannya. Suara bantingan benda yang dilemparkan ke arahnya, satu beling kecil menusuk kakinya.

Starla mencengkram dagunya diangkat sedikit ke atas, "Kamu itu cuma anak pungut, yang beruntung kami rawat ," Tangannya langsung menghempaskan dagu dan membuang muka.

Senyuman yang amat menyakitkan. Setetes air mendarat di pipinya. Menatap Starla dengan berkaca-kaca. "Iya, aku udah gak punya orang tua, mereka udah gak ada, mereka gak punya hati, mereka udah mati" Starla menampar pipi Keana.

"Cepat masuk gudang !!, Saya akan beri kamu hukuman"

Lagi-lagi air mata itu jatuh. "Kenapa marah ? Tolong temuin aku sama ibu aku, bilang sama dia kalau aku sayang dia, aku mau pergi dari rumah neraka ini .... " Kea terjatuh, memegangi tangan Starla. "Aku udah gak tahan terus disiksa, tolong temuin aku sama ibu aku" Teriaknya.

Starla menghapus air mata. Ia menendang kea hingga terjatuh. "Jangan harap kamu bisa keluar"

" Aku mau keluar dari sini !, Ini neraka, aku gak tahan terus disiksa" Teriaknya dengan kencang.

Starla menatap sendu pada kea yang menangis di lantai, dari atas tangga.

"Maaf, aku tak pantas menjadi ibumu"

-oOo-

"Apa kamu bolos lagi ? Kan sudah sayang bilang jangan membolos, apa perlu saya ulangi terus menerus ?"

"Dokter gausah berisik bisa ? Pala aku pusing tau gak" Zidan membungkam mulutnya, melihat wajah kesal gadis itu.

Kakinya terasa pegal, akhirnya ia duduk di kursi. Menjatuhkan dirinya ke kursi . Memainkan pulpen yang digunakan Zidan untuk menulis resep obat.

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang