[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
-
-
49. ALONE
"Ada apa Bram ?," Zidan melirik jam dinding dirumahnya yang menunjukan tengah malam. Tumben sekali lelaki berusia seperempat abad itu menghubungi nya di tengah malam seperti ini.
"Keadaan Kea semakin parah, dia terus muntah darah. Saya harap anda bisa mempercepat penerbangannya menjadi malam ini." Tukasnya dengan nada khawatir.
Zidan mematikan telfon sepihak, segera mengambil Jaketnya dan meninggalkan apartemennya.
Bram berlari ke arah Surya yang terus saja menenangkan Keana, wanita itu terus muntah darah tanpa henti. Sejujurnya sebelum muntah darah wanita itu sempat kejang-kejang. Mereka berdua tidak bisa lagi menunda penerbangannya.
Zidan masuk dengan keringat yang membasahi pelipisnya, ia membiarkan dokter dan suster masuk dengan membawa brankar. Peralatan medis sudah disiapkan termasuk alat untuk bernafas.
Keana segera dibawa kedalam Ambulance dengan keadaan yang sudah tidak sadarkan diri, sedangkan Surya dan Bram membawa koper dan barang-barang yang sudah mereka siapkan tadi sore dan dibantu dengan Zidan.
---
Rifqi terus mengetuk pintu apartemen dengan kencang, terkadang ia mengintip lewat celah-celah pintu. Javas baru saja sampai dengan nafas terengah-engah, "dimana Keana ?,"
"Apa udah berangkat ?," Tanya Rifqi, dia benar-benar takut dengan apa yang dipikirkan olehnya.
Javas menggeleng, jelas-jelas Keana bilang jika gadis itu akan berangkat jam setengah 7. Namun mereka berdua setengah jam datang lebih awal.
Sebuah pesan masuk dari Bram.
Kalian tidak perlu mengantar Nona Keana, dia sudah berangkat tadi malam. Kondisinya tiba-tiba semakin parah, jadi kita tidak bisa menunda lagi. Saya akan memberi kalian alamat rumah sakitnya jika ingin ke sini.
Rifqi putus asa, dia menyenderkan kepalanya di pintu dan melemparkan ponselnya pada Javas. Sama halnya dengan Rifqi, Javas terlihat tidak bersemangat. Pria itu segera pergi dari sana, setelah mengamati pintu Apartemen Keana.
Sedangkan di Negara lain, sang pemilik apartemen masih memejamkan mata sejak malam. Membuat ketiga Pria yang selisih umurnya hanya satu tahun merasa khawatir.
Setelah menimang selama beberapa jam ini, dia memutuskan untuk mengabarkan hal ini pada Kenzo-Sahabatnya- dan menjauh dari sana, mencari tempat yang sepi.
Ketika membuka ponsel, puluhan panggilan tak terjawab dari Rifqi. Mereka telah bertukar nomor sejak Keana pindah dari rumah Dessi, karena Rifqi selalu ingin memastikan jika keadaannya baik-baik saja.