[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
42. ALONE [ BERULAH LAGI ]
"Chika, cepat minat maaf !"
"Aku gak salah Bang, please deh gausah belain tuh cewek mulu. Lagipula Bang Al gatau kan penyebab aku lakuin itu ke dia ? Aku tau Bang Al pasti tau sifat aku. Aku gak bakalan buat gara-gara kalau ada penyebabnya," Sahut Chika, melipat kedua kakinya di Soffa.
Mereka berada di rumah sakit, sudah hampir satu jam berada di tempat ini. Chika begitu malas untuk menengok kondisi Wanita yang tak kunjung keluar juga.
Althair benar-benar frustasi, melihat keinginan adiknya yang tidak ingin meminta maaf juga. Berusaha menahan amarahnya yang bergejolak, kakinya melangkah menjauh dari sana. Entah ingin pergi kemana, Chika sama sekali tidak peduli.
Badannya ditegakkan, melihat kepergian Althair. "Dasar Bucin." Lontarnya terdengar nada ejekan, membenarkan ranselnya yang sedikit miring.
---
"Kenapa sih, gak dulu gak sekarang. Selalu aja caper ? Bisa gak lu diem aja ? Gausah sok peduli sama gua." Kea kalah telak, ia diam membiarkan Kia meninggalkan nya sendiri di sini.
Baru beberapa langkah, palanya sedikit berputar. Memanfaatkan keadaan ini jauh lebih baik menurutnya. Perempuan seperti Kea memang sangat cocok jika dibohongi. Dia kira, sifat wanita itu berubah ketika masuk dengan penampilan yang lebih sangar, namun tidak dengan dugaannya. Sifatnya sama seperti dulu, culun.
"Lu kasian kan sama gua ? Pala gua berdarah terus, jadi gua minta duit untuk berobat." Pintanya, menodongkan tangan.
Kea menatap telapak tangannya, merogoh kantung sekolahnya. Entah sedang mencari apa, tapi Kia benar-benar senang dugaannya memang benar, sifatnya sama saja seperti dulu.
Sebuah kertas robek diletakkan ke tangannya, wajahnya yang berseri-seri seketika menjadi muram. Melempar sobekan kertas berwarna putih ke lantai. Melihat Kea yang tertawa lepas, menganggap jika ini seolah lelucon.
Saat tawanya terhenti, senyuman itu hilang. Bibirnya melengkung miring, "Gausah berharap gua kaya dulu. Tadi cuman insaf doang," Tandasnya, memutar kursi roda.
Kia benar-benar kesal, ia merasa dipermainkan oleh Kea. Namun hanya bisa terdiam dengan mengepalkan tangannya. Ini masih di sekolah, tak mungkin kan jika membalaskan nya sekarang ? Bagaimana jika ada yang melihat ?
Tidak percaya, jika tadi benar-benar menguras tenaganya. Jadi, dia memutuskan untuk ke perpustakaan saja. Sudah terhitung lama juga tidak ke tempat ini.
Sebuah telapak tangan menahan lengannya ketika sudah siap untuk menggapai buku-buku yang jauh lebih tinggi jika dia duduk seperti ini. Gevan mengambilkannya dia pergi dari sana. Sama seperti dulu, laki-laki itu masih saja tidak berubah.
" Kak ..." Panggilnya, menahan pergerakan Gevan yang berjalan melangkah lebih dulu. "Makasih." Lirihnya meremas tangan.