41. ALONE

9.7K 386 3
                                        

41

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

41. ALONE

"Woi anak buangan," Angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya, melihat wanita berdiri dengan tas kecil memandangnya remeh. Langkah demi langkah untuk mendekatinya. Ia diam, menunggu sang pengganggu melanjutkan pembicaraannya.

Dagunya diarahkan ke atas, cengkraman nya begitu kuat. "Kenapa sih, kenapa gak mati aja sekalian ? Gua bener-bener benci sama lu Kea."
Teriaknya menjambak rambut, hingga kepalanya tertarik kebelakang dan beberapa helai rambut terlepas.

"Jauhkan tangan Anda dari nona kami." Perintah laki-laki yang sudah memegang tangan Kia dengan kuat. Kekuatannya yang tidak seberapa oleh Pria yang mengenakan jas rapih, sehingga tangannya diturunkan tidak jadi untuk menampar pipi Anak itu.

Atensinya teralih pada lelaki yang masih memperhatikan gerak-gerik nya. Rambutnya dikibaskan, "bisa-bisanya kalian gak malu punya majikan kaya cewek cacat itu."

"Justru kami akan malu jika kami mempunyai majikan seperti Nona yang bahkan tidak memiliki rasa sopan santun." Sahut salah seorang dari mereka.

Kia pergi dari sana dengan rasa kesalnya.
Ia benar-benar mengucapkan terimakasih pada Bram dan Surya, karena telah mengusirnya tanpa harus cape-cape menghadapinya.

Ia dipapah masuk ke dalam kendaraan beroda empat dengan bantuan Bram yang menggendongnya, sedangkan Surya lelaki itu telah meletakkan kursi rodanya di belakang bagasi.

Dessi dan Gina tidak ikutnya untuk pulang kali ini, itu karena mereka ada keperluan penting yang harus segera dikerjakan secepat mungkin.

Mobil kini berjalan, melindas aspal yang basah terkena hujan siang hari tadi, sehingga air yang menggenang menyipratkan orang-orang yang berjalan kaki.

Suasana tidak seperti mereka berangkat, ini begitu sepi dan sunyi. Sama sekali tidak ada pembicaraan dari mereka. Wajar saja, pasti Surya akan begitu canggung jika diajak bicara olehnya . Berbeda dengan adiknya Bram yang humoris, namun dia tetap profesional jika menyangkut soal pekerjaan.

"Apa nona baik-baik saja ? Saya lihat sejak masuk, anda selalu di usik oleh orang-orang dan banyak yang mengumpat pada anda. Bahkan melemparkan tatapan sinis mereka." Bram membuka pembicaraan di suasana Sunyi ini.

Surya menepuk bahu adiknya menyuruh nya untuk diam saja, takut jika salah bicara. "Apa yang kau lakukan ? Diam saja, tidak usah cerewet."

"Heh ? Cerewet katamu ? Aku hanya mengkhawatirkannya."

Kea memperhatikan pertengkaran kecil antara kedua adik kakak itu. Ia jadi teringat dengan Kenzo dan Dirga. Ngomong-ngomong sebenarnya Kenzo sudah tidak ada di Indonesia lagi, dia telah kembali ke negara Prancis lusa kemarin tepat pada malam hari, itupun tanpa sepengetahuannya.

"Kalian tau ? Aku udah biasa hadapin masalah kaya gitu. Bahkan sebelum kalian menjadi pengawal ku. Aku benar-benar terbiasa dengan bully atau umpatan yang mereka berikan padaku. Jika dipikir-pikir, sudah seperti makanan sehari-hari. Kalian gak perlu khawatir terutama kamu Bram, aku udah terbiasa ngehadapin ini semua." Pertengkaran kecil mereka terhenti. Surya melihat Sang majikan dari kaca dalam mobil. Ia tersenyum lebar, dengan melihat ke arah luar jendela.

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang