53. ALONE

8.7K 337 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


-

-

-

53. ALONE

"Loh ? Bang Zidan, Kak Rifqi, sama Kak Javas ? Kalian emang gak sibuk ?" Ketiga Pria itu menggeleng, perlahan mendekatinya dengan senyuman yang mengembang. Meletakkan makanan yang dibeli sebelum ke rumah sakit.

Hari ini hari Sabtu berarti mereka libur sekolah, jadi Javas dan Rifqi memutuskan untuk ke sini setelah mendapatkan kabar dari Zidan. Yah, walau hanya dua hari setidaknya dapat menjenguk Keana. Tidak ada yang lebih penting dari itu. Bahkan Rifqi berbicara, lebih bagus jika mereka berdua membolos di hari Senin. Tentu saja pernyataan itu membuat Zidan menjewer telinga Rifqi.

Keana tertawa lepas, menyerka air mata yang keluar. Dia begitu terhibur, melihat bagaimana Rifqi yang membuatnya tertawa, lalu Javas yang menyahut dan Zidan yang menengahi mereka. Pemandangan ini sangat langka.

"Sudahlah, ini waktunya Keana istirahat. Kalian berdua keluar !" Zidan mendorong kedua remaja lelaki itu keluar.

Rifqi berhasil kabur, dia menyelinap dan berjalan kearahnya, terus berlari menghindari Zidan yang menangkapnya dengan perasaan jengkel. "Rifqi, cepat keluar !"

"Sebentar doang, Janji sebentar doang." Tutur Pria itu, duduk di soffa dengan nafas terengah-engah sambil mengacungkan kelingkingnya.

"Udah Bang Zidan gak apa-apa kok. Lagian juga aku seneng kalau ramai kaya gini." Rifqi menjulurkan lidahnya, meledek Pria berusia seperempat abad. Javas kembali masuk lantas duduk di samping Rifqi.

"Mau jalan-jalan ?"

"Gila ya lu ? Jangan-jangan nanti gua di getok sama Abang-abang nya." Tolak Rifqi dengan cepat, bisa-bisa dihukum sama Zidan dan Kenzo.

Keana tertawa kecil, "iya kok aku mau, sumpek disini terus."

Rifqi pasrah, jika Keana yang sudah angkat bicara beda lagi. Pada Akhirnya mereka bertiga berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit, mencari taman menggunakan kursi rodanya.

Dari jarak kurang satu meter dua bodyguard yang dikerahkan oleh Kenzo mengikuti mereka.

Bibirnya melengkung, menghirup udara sejuk begitu sampai di taman yang ditujunya. Rasanya sudah lama sekali tidak menghirup udara segar, padahal baru beberapa hari saja. Mengingat Rumah sakit yang bau obat-obatan membuatnya muak.

Sejak dulu Keana tidak suka dengan rumah sakit, namun jika tidak ada rumah sakit mungkin orang-orang tidak tau harus dirawat dimana, benarkan ? Ah sudahlah, lupakan saja.

"Gimana kabar mereka kak ?"

"Mereka baik-baik aja, gaperlu khawatirkan orang. Khawatirkan dirimu sendiri." Cerca Javas mengusap kepalanya yang dibaluti kupluk.

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang