[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
57. ALONE
"Dirga, jika kamu tidak bangun juga kami akan segera ke rumah sakit." Terdengar teriakan dari luar kamar hotelnya. Dirga mematikan alarm ponselnya yang ikut berbunyi. Perlahan matanya terbuka, "Aku akan menyusul mah." Sahutnya, segera beranjak dari kasur.
Lantas membuka gorden kamar hotelnya, terlihat langit yang sudah menjelang senja, gedung-gedung tinggi dan padatnya kendaraan Negara B saat ini.
Tadi pagi, mereka baru sampai ke Negara ini. Kalian harus tau, perjalan dari negara asalnya ke Negara B butuh waktu belasan jam. Karena jarak diantaranya sangat jauh. Bahkan Dirga hampir mual, karena tidak tahan untung saja masih bisa menahannya.
Dirga hanya perlu berganti pakaian saja, lalu keluar dari Kamarnya.
Hotel ini tidak seperti di Negara asalnya, Fasilitas nya begitu lengkap. Ya walaupun memakan biaya uang cukup mahal.
Dirga keluar dari lift, kakinya melangkah lebar keluar Hotel. Bertengger mobil yang didalamnya terdapat Kiana beserta kedua orangtuanya. Sudah pasti sejak tadi mereka menunggu nya.
Begitu masuk, Starla menjewernya. "Kamu ini ya, sudah mamah bilang kenapa tidak istirahat di pesawat aja ? Kita jadi terlambat." Heri menenangkan istrinya, berulah saat itu jewerannya dilepaskan.
Mobil itu melaju, membelah keramaian Kota X. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, jika kalian melihat ke kanan atau kiri sama sekali tidak ada sampah yang berserakan. Lampu-lampu yang menyala dan langit senja beserta pohon dan Gedung yang menghiasi pemandangan membuat kalian merasa ingin terus melihatnya.
Mobil berhenti ketika lampu merah, kepalanya melihat kesamping. Melihat mobil berwarna hitam yang berada disampingnya, kaca mobil itu terbuka. Dahinya mengerut, bukankah itu sepupunya ? Buat apa dia disini ?
Lampu berganti jadi hijau, mobil hitam itu melaju dengan cepat. Awalnya Dirga berniat meminta sopir untuk mengejarnya, namun ia sadar ketika melihat Kiana yang berada disampingnya. Rasa penasarannya terganti dengan Rasa Iba.
Mobil itu berhenti lagi, bukan karena Lampu merah melainkan mereka sudah sampai rumah sakit. Beruntung Ayahnya memilih Hotel yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah sakit.
Setelah membayar, mereka keluar. Kiana dipapah oleh Starla. Dia membiarkan Kedua orangtuanya dan Kiana jalan lebih dulu, karena Dirga ingin tau tujuan Kenzo kerumah sakit untuk apa. Tadi secara tidak sengaja, Dirga melihat mobil kakak sepupunya terparkir tepat disamping.
Melihat mereka yang tidak menyadarinya, Driga semakin memperlambat jalannya menoleh ke sekitarnya, siapa tau melihat Kenzo atau orang-orang Kenzo.
Karena tidak memperhatikan langkahnya, Kenzo menabrak Seorang Dokter yang membawa setumpukan berkas-berkas pasien rumah sakit. "Maaf, saya tidak sengaja." Ia segera membantu mengemasnya, lalu segera memberikan nya. Membiarkan Dokter itu pergi begitu saja setelah mengucapkan terimakasih.
Namun, Dirga baru sadar jika dia kehilangan jejak kedua orangtuanya beserta adiknya. Kemana mereka ?
Sial, bagaimana bisa seceroboh ini ? Dirga merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa tidak fokus ? Hingga melupakan tujuannya ke Rumah Sakit.
Dirga terus berjalan, bahkan dia tidak tau tujuannya. Ia mendatangi resepsionis.
"Permisi, apakah disini ada pasien atas nama Kenzo ? Atau apakah Anda melihat seseorang yang selalu memakai jas dan diikuti satu pengawalnya ? Ciri-cirinya dia tampan, memiliki tai lalat dekat mata, pakaian nya rapih."
"Disini tidak ada pasien atas nama Kenzo, namun saya melihat laki-laki yang anda sebutkan. Sejak seminggu yang lalu dia terus datang ke sini. Mungkin ada pihak keluarganya yang sakit."
Ini semakin membuatnya penasaran, buat apa Kenzo ke sini sesering itu ? Siapa yang sakit ? Jika bibinya, kenapa dia tidak mendengarnya dari Starla, ini benar-benar aneh.
"Apakah anda pernah melihatnya dengan membawa orang yang dirawat itu ?"
"Ya, dia perempuan." Kenzo mengucapkan terimakasih, jika terus menginterogasi resepsionis itu bisa-bisa Dirga dikira penguntit.
Ngomong-ngomong siapa perempuan itu ? Pacarnya ? Dirga tertawa hambar, tidak mungkin juga Kenzo pacaran melihat sikapnya saja jelas jika laki-laki itu sangat anti dengan wanita kecuali Keana dan ibunya, bahkan dengan Adik kandungnya saja dia begitu cuek.
Matanya membulat, Dirga baru sadar. Apa ini ada hubungannya dengan Keana ?
Dirga berbalik untuk kembali, namun Resepsionis itu sudah hilang. Mungkin ke toilet.
"Bos, kami sudah menyelesaikan nya. Dia tidak akan tau keberadaan kita dan Nona. Mohon untuk berhati-hati." Seseorang berpakaian hitam dan kacamata hitam mematikan telfonnya, lalu segera pergi dari bilik dinding.
Keringatnya bercucuran, dia begitu takut untuk memasuki ruang operasi. Tangannya bergetar, berkali-kali dokter laki-laki disamping nya terus menawari untuk membatalkannya namun Keana tetap keras kepala dia tidak mau membatalkan nya.
"Bodoh." Sarkasnya, menatap iba Keana yang mengeluarkan air mata. Sudah jelas jika gadis itu belum siap, namun tetap memaksanya.
Dia memasuki ruangan operasi lalu disuntikan obat bius, tidak lama kemudian seorang wanita seumuran dengannya juga memasuki ruangan operasi.
---
"Bagaiman dokter ? Apakah berhasil ?" Starla mengeluarkan air matanya, dia menatap Dokter itu dengan harapan.
"Semua berjalan dengan lancar, hanya saja Nona Kiana akan tersadar beberapa jam lagi karena efek obat bius, kemungkinan baru bisa melihat kembali esok hari setelah penutup matanya dibuka. Dimohon pihak keluarga untuk bersabar, dan mendoakan yang terbaik untuk pasien." Starla menangis histeris, dia memeluk Heri yang menahan tangis bahagianya.
Tidak ingin menggangu pasangan itu, dia pergi dari sana dengan sendu. "kamu terlalu baik adik kecil." Gumamnya, merasa bersalah. Akankah dia akan dibenci oleh banyak orang setelah ini ? Mungkin iya.
"Permisi Dokter, bolehkah saya bertemu dengan pihak keluarganya yang sudah mendonorkan matanya untuk anak saya ? Saya ingin mengucapkan terimakasih."
Dokter itu tersenyum ramah, "Maaf, namun pasien tidak ingin siapapun mengetahuinya." Starla mengangguk mengerti, walaupun dia penasaran kenapa ada orang sebaik itu. Namun dia tidak peduli, yang penting Kiana sudah memiliki mata.
Pintu operasi kembali terbuka, Brankar Kiana didorong untuk memasuki Ruang rawat inap. Starla mengikutinya, namun tidak dengan Heri ia masih menatap pintu ruang operasi entah kenapa perasaan nya tidak enak. Melihat sang suami yang masih berdiam diri, Starla menyadarkan nya dari lamunan hingga Heri menyusulnya dengan langkah lebar .
"Gimana mah ? Kapan Kia sadar dan bisa melihat lagi ?"
"Kamu tenang saja Dirga, operasi nya berjalan lancar. Nanti malam adikmu sudah sadar dan besok sudah bisa melihat lagi." Heri menepuk pundak anaknya. Dirga tersenyum, ini benar-benar bukan mimpi.