Untuk part kali ini dikit dulu ya,
Jangan banyak-banyak nanti masuk angin.
Happy Reading
62. ALONE
Starla menatap anak laki-laki semata wayangnya dengan kecewa, ketika mendengar jika dia telah mengetahui semuanya. "Lalu kenapa kamu tidak memberi tau mama Dirga ? Ini bukan hal sepele !" Murkanya.
"Mah, gimana aku mau ngasih tau mamah ? Sedangkan kalau papah atau aku bahas keana aja mamah udah marah banget."
Matanya terpejam, tangan kanannya mengelap air mata yang lagi-lagi keluar. "Mamah menyesal, mamah tau salah, keana bagi mama sangat berharga. Tapi ini semua udah telat,"
"Belom telat mah, turutin permintaan Keana. Mungkin dengan begitu dia bakal maafin mamah," Usul Dirga memapah Starla untuk duduk.
Kiana yang mendengar percakapan mereka mengeluarkan air mata, "Gue benci sama lu kea, ketika lu masih baik sama gua setelah apa yang gua perbuat selama ini. S*alan," lirihnya, mengelap air matanya yang tanpa sadar menetes menggunakan bajunya.
"Kenapa gua harus nangis untuk cewek sok kuat itu sih ?"
-oOo-
"Hallo maaf ini siapa ya ?" Terdengar suara perempuan yang berasal dari ponsel. Starla menarik nafas.
"Hallo Dessi, ini Tante."
"Maaf Tante, bukannya aku gak sopan tapi untuk saat ini kalau Tante mau maki Keana lagi atau bela anak kesayangan Tante, ini bukan waktu yang tepat. Aku lagi sibuk"
"Tunggu," sela Starla, dia sudah menebak pasti telfonnya aja dimatikan. Ya, dia memaklumi itu. Memaklumi sifat Dessi yang begitu kesal padanya. "Tante mau minta maaf, selain itu Tante tau kamu mau ketemu keana kan ?" Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya selama beberapa detik, sebelum akhirnya Starla melanjutkan perkataannya. "Alamatnya akan Tante kirim di pesan," ujarnya sebagai penutup percakapan.
Jari-jemarinya menari-nari di atas keyboard dengan lincah, sebelum menekan tombol send.
Dessi yang mendapat pesan, segera mengambil ranselnya lalu keluar dari hotel. Merasa bodo amat dengan penampilannya yang terbilang cukup berantakan.
Starla berdiri di depan rumah sakit, menanti kehadiran Dessi yang akan menemuinya. Hingga akhirnya setelah 23 menit, seorang gadi keluar dari taksi dengan berjalan cepat.
"Tante dimana Keana ? Dia baik-baik ajakan ?" Suaranya bergetar, semenjak mendapat telfon dari Starla hatinya mendadak menjadi gelisah.
"Kamu mau liat ?" Melihat Dessi yang antusias, lantas Starla membawanya keruangan dimana temannya dirawat.
Starla berhenti di hadapan pintu dengan tiga nomor yang tertera, persis seperti nomor kamar yang dikirim oleh Starla. "Pakai ini, ingat tidak boleh menangis. Janji ?"
Dessi mengangguk, dia mengganti pakaian sebelum masuk ke ruangan Keana dirawat.
Suara bunyi monitor menyambut nya, ketika Dessi pertama kali menginjakkan kakinya. Melihat kondisi Keana yang mengenaskan dengan beberapa selang yang dikaitkan di tubuhnya, membuat hati Dessi semakin terenyuh.
Air matanya lolos, dia baru saja mengingkari janjinya pada starla 'tidak boleh menangis' .
"Najis, cengeng banget gua. Hahaha," tenggorokan nya tercekat, " Lo jahat tau gak kalau mau keluar negri pamit dulu kek sama gua, kesel tau gak ! Bikin gua khawatir, dilain sisi gua juga kesel sumpah." Dessi berdiri membelakangi Keana yang tertidur di brankas dengan mata terpejam, ia terisak. Kedua tangannya menutupi wajahnya, menyembunyikan air yang keluar dari matanya dengan deras.
"G-gua mau ke toilet dulu ya. See you .." Cercanya, segera pamit dari sana tanpa melihat wajah Keana lagi.
Starla mengusap punggung Dessi begitu dia keluar dari ruang inap Keana dengan mata yang memerah.
Sebagai orang tua Starla memahami itu.
"Tante, Keana bakal sadar kan ?"
"Harus, dia harus sadar." Sahut Heri, lalu berjalan mendekati keduanya, memberikan Paperbag. "Ini, sudah dibeli." Paparnya.
Starla menerimanya dengan ragu, niatnya nanti sore mereka akan merayak hari ulang tahun Keana bersama Kenzo, Dirga, Dessi, dan lainnya.
Anggap saja, ini permintaan maaf pertama Starla, karena sudah menjadi ibu yang tidak baik.
"Bagaimana ? Dia mau ?" Heri mengangguk.
"Tapi, Kata Kenzo dia bakal datang telat. Pekerjaannya menumpuk di kantor."
Dessi mengangkat kepalanya, "Apa itu Tante ?"
Wanita paruh baya didepannya tersenyum hangat, Dessi sempat speechless baru kali ini dia melihat Starla tersenyum dengan tulus padanya.
"Kue ulang tahun untuk Keana," Bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis.
"Kebetulan, aku juga mau ngerayain ulang tahunnya. Kapan Tante ?"
"Nanti sore kayanya."
Dessi melihat kue yang bertulisan 'Happy bhirtday Keana' di dalamnya.
Selama beberapa menit mereka mengobrol, Starla juga berusaha mendekatkan dirinya pada teman-teman Keana. Hingga pada akhirnya Dessi memutuskan untuk kembali ke hotel, jika dilihat-lihat penampilannya yang sekarang ini sangat memalukan.
Ketika sudah berada diluar rumah sakit, tanpa sengaja berpapasan dengan Rifqi.
"Dess Lo k-"
"Kenapa bisa ada disini ? Lo gak perlu tau qi, yang jelas gua udah tau keadaan dan keberadaan Keana saat ini. Sejujurnya gua kecewa banget sama lo, katanya Lo gatau keberadaan keana. Nyatanya Lo tau, dan bahkan nyembunyiin dari gua. Keterlaluan tau gak !"
"Dess, sumpah gua gak ada maksud un-"
"STOP," Teriaknya denga wajah memerah. "cukup qi, gua ga mau denger penjelasan lo lagi. Bullshit tau gak, lo pikir gua bakal percaya lagi sama perkataan lo ? Gua gak sebodoh itu." Teriaknya, lalu berlari dan menghentikan taksi yang lewat.
Rifqi menghela nafas kasar, dia sudah tau konsekuensinya akan perbuatannya.
-oOo-
"Happy bhirtday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to you ..." Starla meniup lilin, lagi-lagi air matanya lolos. Dia melihat lilin yang membentuk angka 17.
Tidak ada acara tepuk tangan, dan memberi kado. Hanya hiasan beberapa balon yang ditempatkan di setiap pojok ruangan. Tidak mudah untuk meminta izin pada pihak rumah sakit, hingga karena salah satu sepupu Dessi yang berprofesi sebagai dokter membantunya hingga diizinkan, dengan syarat tidak mengusik Keana atau pasien yang dirawat.
"Happy birthday my princess," Starla mencium kening Keana yang masih saja menutup matanya. Ia cukup lama, namun suara monitor yang berbunyi kencang membuatnya terpaksa melepas ciumannya. Kue yang tadi dipegang oleh nya dengan erat, seketika jatuh kelantai karena tangannya yang merasa lemas.
Starla pingsan, Heri segera memapahnya keluar. Sedangkan, Rifqi berlari keluar mencari dokter walau sudah memencet tombol darurat.
Dessi menangis histeris, badannya terasa seperti jelly.
Tbc
Nah loh Napa tuh Keana ? 😣
Kok pada nangis gitu ya ?
KAMU SEDANG MEMBACA
[3] ALONE [END] ✓
Novela Juvenil[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT] Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil. Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
![[3] ALONE [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/263037129-64-k35671.jpg)