
26. ALONE
Ponselnya terjatuh ke lantai. Seisi kelas menatapnya dengan pandangan bertanya. "Kea ? Kenapa kamu main ponsel ? Kamu tidak menghargai say-" Semua orang menatapnya dengan terkejut, saat ia keluar dari kelas. Meninggalkan tas dan ponselnya yang masih tergeletak di lantai.
Guru yang sedang mengajari menggeleng. "Jangan contoh perlakuan teman kamu yang satu itu ya,"
Dilain tempat Keana memutar ban kursi roda di atas trotoar. Walau peluh keringat membasahi badannya, dan terasa pegal di bagian otot-otot tangannya namun dengan begitu tangannya terus saja memutar roda tanpa henti. Mengabaikan orang-orang yang melihatnya dengan pandangan yang begitu random.
"Mah tungguin kea," Gumamnya, mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.
---
Ia terduduk di samping Brankar Starla menatap wajah pucat ibunya. Pintu terbuka, nampak dokter diikuti dua orang suster di belakangnya. Mereka berjalan masuk menghampiri brankar Starla.
"Apa anda keluarga pasien ?," Kea mengangguk, dengan posisi yang sama. Ia sedikit menoleh ke dokter, "Kenapa bisa kaya gini dok ?,"
Dokter itu membenarkan kacamatanya yang sedikit merosot, "Saya tidak tau kejadiannya secara jelas, namun pasien kecelakaan di pinggir jalan. Syukurnya dia tidak jatuh ke dalam sungai yang dalam, tapi pasien butuh banyak darah. Sedangkan di rumah sakit tidak ada golongan darah AB-,"
Ia menatap ibunya yang tertidur di atas brankar, "Saya dok, saya anaknya. Golongan darah saya juga sama." Ia berdiri dengan tegap. Dokter itu tersenyum, "baik kalau gitu anda ikut saya, suster tolong periksa pasien ya. Saya percayakan pada kalian." Kedua suster itu lantas mengangguk dan memeriksa keadaan Starla.
Kursi rodanya berjalan lurus , mengikuti setiap langkah seorang Dokter di depannya. Hingga sampailah dimana sebuah ruangan, kea di persilakan duduk di bangku.
"Dengan ... " Dokter perempuan itu tampak bingung. "Keana dok,"
Ia tersenyum, "Silahkan isi formulir dulu ya," Kea mengangguk. Tangannya menari-nari di atas kertas putih yang berisi tulisan. Setelahnya kertas itu diberikan lagi pada Dokter .
"Kita akan melakukan pemeriksaan pendahuluan ya," palanya mengangguk, menuruti setiap perkataan dan perintah Dokter yang ditujukan padanya .
Sepuluh menit sudah proses donor darah, ia keluar dari sana dengan tangannya yang masih merasakan nyeri.
Kini saatnya kembali melihat starla. Namun kea terkejut melihat brankar yang ditempatkan ibunya tadi kosong. Kemana dia ?
"Anak ibu yang tadi ya ?," Badannya berbalik, "Iya dok, ibu saya kemana ya ? Kok gak ada ?," Tanyanya dengan begitu cemas.
"Pasien sudah kami pindahkan ke ruang VIP mbak, karena tadi suami pasien yang memintanya sendiri." Jelasnya. Kea mengucapkan terimakasih pada Suster, lalu menggerakkan kursi rodanya menuju resepsionis menanyakan kamar ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[3] ALONE [END] ✓
Teen Fiction[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT] Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil. Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
![[3] ALONE [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/263037129-64-k35671.jpg)