[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
-
-
50. ALONE
"Kanker Paru-paru ?" Zidan mengangguk, matanya sembab dengan kantung mata yang melingkari matanya. Sejak kemarin Zidan sama sekali tidak tidur, akibat memikirkan kondisi Keana.
Padahal beberapa kali Bram sudah mengingatkan Zidan agar beristirahat. Namun, pria itu keras kepala dan memaksakan diri untuk menemani seorang Wanita yang masih terbaring dengan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya. Entah bagaimana lagi Surya dan Bram menasihati Pria itu, mereka bahkan sudah menyerah.
Keadaan Keana semakin memburuk dari hari ke hari, itu membuatnya menjadi beban pikiran mereka. Bagaimana bisa seorang perempuan sepertinya menderita penyakit mematikan seperti ini ? Bram tidak bisa membayangkan seberapa sakitnya itu.
Terkadang dia dan Surya yang tidur satu kamar selalu tidak bisa memejamkan mata, setiap kali mendengar kondisi Keana yang sebenarnya.
Pria berpakaian lusuh dan tubuh tidak terawat keluar, mengundang tatapan simpati dari orang-orang yang lewat.
"Saya mau jemput Kenzo di bandara, Jaga Keana untuk saya." Zidan pergi dari sana setelah menitipkan beberapa pesan untuk mereka. Bram berlari menyusul Zidan, mengusulkan diri agar dia saja yang menjemputnya. Beruntung jika dia menyetujuinya. Jadi, Bram mengambil alih kunci mobil dan pergi ke tempat parkir seorang diri.
---
Starla menghela nafas lega, ia khawatir dengan Putrinya karena insiden kemarin yang tiba-tiba hilang dari tempat tidurnya. Sejak beberapa sebelum Kia sadar, dia telah dipindahkan ke ruangan khusus yang disediakan oleh Heri untuk merawat Kia dirumahnya saja dengan perlengkapan dokter yang lengkap. Tentu, agar pihak keluarga dapat menjangkau kesehatan nya.
Kia hanya mendengar suara, dan merasakan seseorang mendekat. Starla tersenyum sedih, "Itu Abangmu, Dirga." Tangannya membelai rambut hitam, menahan isakan yang hampir keluar. Starla masih belum menerima keadaannya, biasa penglihatan matanya dipenuhi kegembiraan kini hanya tatapan kosong.
Dirga menyuruh seorang pembantu yang baru bekerja beberapa hari yang lalu untuk membawa pergi ibunya dari sana. Memastikan telah hilang dari pandangannya, kakinya mendekat ke Kia.
"Bang Dirga ?" Senyumnya terangkat.
Dirga menghela nafas, menahan sesak. "Iya, ini Bang Dirga bawain kamu hadiah." Wajahnya yang dipenuhi kegembiraan kini berangsur-angsur menjadi sendu. "Percuma, aku gak bisa liat apa hadiahnya."
"Tapi ... " Sebuah kotak berpindah tangan ke Kia. "Kamu bisa merasakannya lewat tangan."
Gadis itu mengangguk, sedikit tersenyum dan bahagia walau tidak sebahagia tadi. "Eum ... Ini ... Kalung berlian merah ?" Dirga mengangguk, walau dia tau jika Kiaa tidak melihatnya.