58. ALONE

11.4K 330 2
                                        

58

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

58. ALONE

"Apa katamu ? " Zidan terkejut, mendengar kabar buruk dari Kenzo dengan wajah yang memerah. Auranya begitu tidak mengenakan. Kenzo mengepalkan tangannya, urat-urat nya mengencang bahkan untuk menjaga adiknya sendiri saja tidak becus.

Namun, Kenzo begitu kecewa dengan gadis kecil itu. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya ? Setidaknya dia harus izin dengannya dan meminta persetujuan, bukan seperti ini mengambil keputusan sendiri tanpa berfikir panjang.

Zidan sama frustasinya dengan Kenzo, "Jika bukan karena anak buahku yang melihatnya memasuki ruang operasi, mungkin sampai saat ini kita tidak akan tau."

"Lalu bagaimana dengan Dokter itu ?" Zidan duduk, mati-matian untuk memendam rasa emosinya. Ia takut lagi kehilangan orang-orang terdekatnya.

Sejenak hanya keheningan, "Dia sudah menceritakan semuanya, dan itu sudah keputusan Keana. Walau berkali-kali dia sudah membujuknya namun tetap saja, Keana tetap keras kepala." Zidan begitu terpukul mendengar kabar ini, giginya bergemelatuk kencang.

Baru kali ini, Zidan semarah itu. Kenzo segera pergi dari sana ingin mencari udara segar. Jika terus dirumah sakit, perasaannya selalu saja terasa sesak.

"Bodoh." Sarkas Zidan, menghembuskan nafas mau bagaimanapun juga, dia harus ikhlas atas perbuatan Keana. Jika memang itu kemauannya, maka Zidan tidak bisa berbuat apa-apa.

---


Perlahan matanya terbuka, namun pandangannya gelap. Keana ingin menangis, karena tidak bisa melihat apa-apa namun ia sadar jika kemaren baru saja membuat keputusan yang fatal. Terdengar suara pintu berderit, langkahnya semakin lama terdengar semakin mendekat. Hingga akhirnya, sebuah telapak tangan mengusap rambutnya.

"Apa kamu lapar ?" Keana tersenyum, itu suara yang selalu saja membuatnya terasa terus dilindungi, Kenzo.

"Iya, menu hari ini apa ?"

Zidan membuka tempat makan, aroma wangi menyeruak di Indra penciuman mereka. "Hayo tebak, apa ini ?"

Senyumnya melebar, "Ayam Balado." Zidan tertawa kecil, mencubit ujung hidungnya hingga memerah.

Ekspresi Keana berubah secepat mungkin, dia menggigit bawah bibirnya dengan kencang. Pasti Kenzo marah kan dengan kejadian kemarin ?

Sadar akan perubahan adiknya yang aneh, Kenzo mengangkat kepalanya. "Ada apa ?" Keana menggeleng, dia mengatakan tidak ada apa-apa.

"Soal kemarin, kamu seharusnya izin lebih dulu sama Bang Kenzo." Jantungnya berdegup kencang, ternyata Kenzo masih mengingatnya. "Jika kamu masih menganggap Abang adalah saudara kamu, tidak seharusnya kamu mengambil keputusan sendiri tanpa dibicarakan dulu. Apalagi ini menyangkut hidup kamu, lalu apa kamu sekarang menyesal ? Jika iya, secepatnya Abang akan Carikan mata untuk kamu."

Keana tertawa kecil, kalimat terakhir nya terdengar seperti lelucon di telinganya. Memang mata bisa didapatkan dengan gampang ?

"Aku gak merasa menyesal Bang, Aku ikhlas kok. Gak perlu khawatir." Tangannya mengusap rambut Kenzo.

Mata Kenzo berkaca-kaca, melihat tatapan Keana yang kosong. Membayangkan jika Gadis itu tidak bisa melihat lagi, selalu membuatnya sedih sekaligus kecewa.

"Ah sudahlah, cepat makan. Nanti sore kamu akan menjalani operasi." Keana menuruti perkataannya.

Diam-diam Kenzo memperhatikan gerak-geriknya, "Kata Javas kamu mengajaknya untuk Pergi berlibur selepas pulang dari rumah sakit. Benar ?"

"Iya, itung-itung hiburan Bang. Suntuk banget aku dirumah sakit, gak ada hiburan." Kenzo menghela nafas, merasa iba padanya. "Makanya makan yang banyak biar cepet sembuh, nanti pas keluar dari rumah sakit kita keliling dunia. Sekalian Bang Kenzo mau ngambil cuti."

Dia yang sedang makan tersedak, "Cuti ? Gak perlu ambil cuti segala Bang, kan cuman Aku kak Javas sama kak Rifqi oh iya palingan nanti aku ajak Dessi sama yang lainnya."

"Kamu pikir Abang gak mau ikut ?" Pria itu berkata ketus, dan disambut tawa oleh Keana. Membayangkan ekspresi Kenzo ketika mengatakan itu selalu membuatnya ingin tertawa.

"Sudahlah, cepat habiskan makanannya. Abang harus ke kantor. Jika ada perlu, panggil saja Andre diluar. Mengerti ?"

Pintu tertutup, kini ruangan menjadi sunyi kembali. Nafsu makannya tiba-tiba menjadi turun drastis.

"Bang Andre." Seorang Pria muncul dari bilik pintu dengan kaus hitam berjalan dengan langkah lebar. "Aku mau jalan-jalan."

"Gak bisa, Nona harus habisin makanannya dulu."

"Gak, aku mau jalan-jalan. Janji dah, abis jalan-jalan keluar aku makan lima piring nasi. Gimana ?" Andre tersenyum tipis, lalu mengeluarkan kursi roda yang disimpan di dalam lemari.

"Kangen banget sama kursi ini." Tukasnya ketika sudah duduk di atas kursi.

Benda itu berjalan dengan perlahan-lahan. Mereka memutari rumah sakit, kursi itu berhenti ketika Telfon Andre berdering. "Nona maaf, saya harus mengangkat telfon dulu." Pamitnya, lalu berjalan menjauh membelakangi nya.

Keana menghela nafas, hanya bisa meratapi nasibnya.

"Maaf, permisi ap- Keana ?" Badannya menegang, itu suara Dirga ! Bagaimana bisa pria itu berada disini ?

"Kenapa bisa disini ?" Terselip nada khawatir di sela-sela perkataannya. Namun, Keana tetap diam. Ya lebih baik seperti ini.

Melihat perkataan nya yang diabaikan, rasa khawatirnya menghilang begitu saja seperti angin. "Lagi meriksa kehamilan ? Udah berapa bulan ?"

Keana menggeleng, dia menampar wajah Dirga. "Gua gak semurah itu, Stupid Dirga." Teriaknya.

Andre yang mendengar teriakan Keana segera mematikan telfonnya, berjalan sedikit lebih cepat agar berhasil menyusulnya. Di tatapnya seorang remaja yang tengah berdiri, "Maaf Anda siapa ?"

Dirga tersenyum sinis, ketika melihat Pria yang bahkan seumuran dengan sepupunya, Kenzo.
"Jaga anak lu baik-baik." Dirga pergi begitu saja.

"Bang Dirga masih sama, Gua benci sama lu Bang." Teriaknya, mengacak rambut dengan frustasi.

Melihat keadaannya yang kacau, Andre segera membawanya menjauh dari keramaian rumah sakit mencari tempat sepi.

Keana menangis sejadi-jadinya, ketika berada di tempat sepi. Dia benar-benar berharap jika kepergiannya akan membuat Dirga dan Starla sadar. Ia tersenyum, meratapi dirinya yang begitu bodoh. Berharap terlalu berlebihan memang menyakitkan. Mendapatkan kasih sayang ? Merasakan hangatnya keluarga ? Merayakan ulangtahunnya ? Bukankah hanya itu ? Kenapa mereka semua bahkan sangat susah untuk melakukannya.

Andre hanya bisa menenangkan nya, membiarkan Keana menangis sejadi-jadinya.
Karena dia juga dapat merasakannya. Hidup menjadi dia bukanlah hal yang mudah. Ia mendekap Keana, berharap dengan begini dapat mengurangi rasa sedihnya.

-

-

-

[3] ALONE [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang