[PLAGIAT DILARANG MENDEKAT]
Keana perempuan cantik yang sangat dibenci oleh kedua orangtuanya juga abangnya. Entah apa penyebab mereka membencinya. Setiap hari dia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil.
Perkenalkan saja namanya Kiana saudara an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
-
-
51. ALONE
"Kenapa ?" Tanyanya tak acuh. Mau bagaimanapun mereka masih bermusuhan.
Javas tidak mempedulikan perkataan Dirga yang sepertinya tidak menginginkan kedatangan nya. Ia duduk dengan tegak, menyeruput air yang sudah di sediakan oleh wanita paruh baya, berpakaian daster.
"Kemana aja lu gak masuk ?"
Javas menghela nafas, "Ada keperluan."
Dirga berdehem, dia penasaran dengan kondisi Keana yang tiba-tiba menghilang. "Gua denger Keana gak masuk hari ini, terakhir sama lu dan Rifqi. Tumben banget akur, biasanya kan lu paling semangat bully tuh anak terus berantem sama Rifqi." Sindirnya.
Javas tidak tau ingin menjelaskan bagaimana lagi. Tidak mungkin jika dia berkata, alasan mereka menjemput dan dekat karena ada satu hal kan ?
Ketika melihat tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya, Dirga terlihat kesal. Dia merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan dari sobatnya itu. Entah mungkin soal Keana atau lainnya.
"Oh ya, besok seminggu gua gak masuk. Tolong tulisan surat izin." Satu alisnya terangkat. Pasti ada masalah dengan Javas, tidak biasanya dia Izin seperti ini.
Rasa keinginannya untuk mengetahui semuanya semakin besar, namun tidak mungkin juga jika dia mendesak Javas. Melihat kondisinya, Dirga hanya bisa urungkan. Masih banyak waktu, dia mungkin bisa menanyakannya lusa.
"Mau kemana ? Emang Bokap lu mau keluar kota ?" Javas menggeleng.
Baru beberapa langkah, Javas berhenti dia memanggil nama Dirga yang berdiri di tangga pertama bersiap untuk menaiki tangga. "Besok beliin buah-buahan ya." Teriaknya, segera kabur dari sana.
Dirga mendesis, "Kampret." Umpatnya.
---
"Keana sayang, bangun." Kenzo menahan buliran air mata. Melihat kondisi Keana yang begitu kurus, dan dengan alat-alat rumah sakit yang menempel pada badannya. Membuatnya menyesal, tidak merawat ia dengan baik.
Zidan menepuk pundaknya, menenangkan sahabatnya. Di ruangan ini hanya ada mereka bertiga, Keana, Zidan, dan Kenzo. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara monitor yang terdengar nyaring.
"Mereka tau soal ini ?" Zidan menggeleng, dia tau maksud dari perkataan Kenzo. Susah pasti keluarganya di Indonesia. Itu membuatnya menghela nafas lega, walau merasa begitu bersalah. Namun mau bagaimana lagi ? Ini permintaan Keana sendiri. Sepanjang hidupnya, dia terus merasa selalu merepotkan orang-orang di sekitarnya. Terutama Kenzo dan Zidan, kedua pria itu yang seharusnya usianya sudah matang untuk menikah, tetapi malah merawatnya.