[ BEBERAPA CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ]
- Kembalinya pertemuan menyebabkan luka -
Ini tentang Shaquille Samudera Manggala. Ketua Geng motor D'Handzels. Ia mempunyai sahabat yang bernama Caramel Aqiella Jasmine.
Berawal dari ke...
MATA coklat terang milik Jasmin terbuka dengan pelan. Retinanya menyesuaikan dengan keadaan sekitar, barulah gadis itu tau dimana ia sekarang berada. Menghela napas, Jasmin mencoba menegakkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Ini kamarnya, dan hari sudah gelap. Dalam pikirannya sekarang memikirkan kejadian tadi siang. Apakah semuanya tau? Dan bagaimana bisa ia sekarang berada di dalam kamarnya?
Matanya melirik ke arah nakas putih tepatnya di samping tempat tidurnya. Disana ada sebuah amplop. Jasmin pun mengambilnya dengan dahi yang mengkerut.
SURAT KESEHATAN AN. CARAMEL AQIELLA JASMIN.
Jasmin tidak jadi membukanya. Di tatapnya terus menerus amplop putih itu sambil menerawang. Matanya memandang kosong amplop. Tentang semua rasa sakitnya, tentang bagaimana perjuangannya sampai di titik sekarang ini. Semuanya.
"Sam, tau?" Monolog Jasmin lemah.
Suara pintu yang dibuka mengagetkanya. Lion bersama Mommy-nya datang sambil tersenyum hangat. Lion duduk di pinggiran kasur diikuti Mommy yang baru saja meletakkan sebuah nampan yang berisi makanan beserta air putih, mungkin itu semua untuknya.
"Sekarang masih ngerasain sakit lagi?" tanya Lion hati-hati.
Jasmin mendongak menatap Abangnya. Cowok itu sepertinya baru saja pulang dari kantor Daddy-nya. Terbukti saat Lion masih memakai kemeja kantor.
Jasmin menggeleng dua kali. "Enggak, Abang," jawabnya.
Mommy mengusap surai anak perempuan satu-satunya itu. "Mommy panik liat kamu pingsan di bawa sama Samudera," Kata Hanna.
"Dokter bilang kamu terlalu kecapekkan sayang. Jantung kamu jadi lemah." Tutur Hanna lagi.
"Dokter selalu bilang begitu terus 'kan Mom?" Kata Jasmin. Mata gadis itu berkaca-kaca menandakan dirinya sudah terlalu capek dengan semua yang dialaminya. Dadanya terasa terhimpit yang membuatnya sesak jika berkata seperti itu.
"Sayang." Panggil Hanna lembut. Kemudian menarik anaknya itu untuk dipeluknya. Tangannya mengusap bahu Jasmin ketika mendengar suara tangisan yang teramat lirih.
Lion pun tak kuasa melihatnya. Lion mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat Adiknya itu menangis. Jasmin itu mudah tersenyum, ceria, dan ceroboh dimatanya. Sangat sakit ketika sekarang Lion melihat Adiknya menangis di depan matanya.