BAB 53 - KALAH SEBELUM MEMULAI?

30.4K 2.9K 573
                                        

Pembukaan diawali dengan vote dulu, ga pernah bosen aku ingetin dari part pertama🤪 ga susah kan yaa ramein part ini peps🥺

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pembukaan diawali dengan vote dulu, ga pernah bosen aku ingetin dari part pertama🤪 ga susah kan yaa ramein part ini peps🥺

TAG jika ada typo atau salah penulisan kalimat nanti aku gercep revisi!

Semoga suka sama part ini yaa💜

– Happy Reading –

Semua orang pasti akan berubah pada waktunya. Begitu pun juga dengan sikapmu kepadaku. — Caramel Aqiella Jasmin.

53. Kalah Sebelum Memulai?

"Tau cara yang paling ampuh buat musuh lemah?"

"Lo deketin orang terdekatnya, lo kasih perhatian sampai dia nyaman sama lo. Setelah itu lo buang harapan dia. Selesai. Bisa 'kan lo wujud-in itu semua?"

"Gak usah pakai hati cara mainnya. Di dunia ini gak ada yang tulus, yang bisa ngertiin keadaan lo itu, cuman diri lo sendiri."

Nathan mengusap beberapa kali wajahnya. Raut wajahnya pias ketika sekelebat perkataan muncul di otaknya. Pasokan udara di sekitarnya menipis sehingga dadanya begitu sesak. Selama beberapa tahun ia menunggu dimana hari dendamnya terbalaskan, hari ini peluang yang bagus, waktu yang paling di tunggu-tunggu tetapi mengapa hatinya berbanding terbalik?

Rion beberapa kali berucap kepadanya tentang balas dendam. Tepatnya kepada D'Handzels, setiap kali ia menyangkalnya tubuhnya yang menjadi sasaran empuk kemarahan Rion. Terkadang ia berpikir tahun ini adalah ia ketua Lazer's—posisi paling atas. Tetapi, mengapa ia di perlakukan seperti ini?

"Gue udah berhasil deketin lo, Mel. Tapi, kenapa saat di dekat lo kemampuan gue lemah? Gue gak bisa fokus sama tujuan awal gue saat gue liat senyum lo,"

Mata Nathan menerawang jauh. Wajah marah, serta senyum manis Jasmin lah yang ada di otaknya saat ini. Tersenyum kecil saat ia memanggil nama Jasmin dengan sebutan—Caramel.

"Gue nyakitin hati lo? Apa bisa?"

****

Tubuh tegap Samudera di hempaskan kedalam kursi penumpang di dalam mobil sport Sagara. Dibantu teman-temannya cowok itu akhirnya berhenti meminum wine lagi. Ia ingat dan pikirannya masih sadar bila dengan beringasnya memesan wine juga vodka beralkohol tinggi. Lagi-lagi saat meminum vodka terakhirnya gelas tinggi kecil itu di hempaskan oleh Bimo. Ia tidak terlalu ingat yang jelas ia sekarang berada di dalam mobil. Teman-temannya masih berbincang di luar mobil. Ia tidak peduli, kepalanya terasa mau pecah hari ini.

Sagara sengaja meminta tolong kepada supir rumahnya untuk membawakan mobil. Menghela napas berat, sebenarnya ini bukan waktunya. Di jam-jam seperti ini ia lebih senang berdiam diri di rumah, melakukan hal-hal bermanfaat baginya. Misalnya, belajar. Itu yang Sagara lakukan setiap harinya tidak pernah bosan.

SAMUDERA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang