BAB 13 - DIA TIDAK AKAN BISA MARAH

40.9K 4K 581
                                        

Hello yang masih setia di cerita aku ini💜 seperti biasa ya sebelum baca vote dulu biar rame🔥

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hello yang masih setia di cerita aku ini💜 seperti biasa ya sebelum baca vote dulu biar rame🔥

Kalau ada typo tandain aja ya shayy💅

Semoga suka sama part ini💜

- Happy Reading -

13. Dia Tidak Akan Bisa Marah.

Nathan memaju langkahnya semakin cepat. Napasnya memburu saat salah satu anggotanya mengirimkan pesan padanya. Tangannya terkepal seiring langkahnya yang kian lebar, sesekali Nathan menabrak beberapa bahu orang yang berjalan didepannya, bukannya minta maaf Nathan malah melemparkan tatapan tajamnya yang membuat orang yang ditabraknya ketakutan dan berlalu pergi.

Ruang Anggrek Nomor 218.

Sambil mengingat itu Nathan kini berjalan menuju lift didepannya dan segera masuk, jarinya kini memencet tombol lantai 3 dengan tidak sabaran.

"Bangsat," gumam Nathan kesal karena lift yang dinaikinya ini sungguh lama menuju lantai 3.

Akhirnya pintu lift terbuka dan Nathan segera mencari ruang inap Nomor 218. Di lantai tiga cukup sepi orang yang berlalu lalang sehingga memudahkan Nathan mencari ruangan yang dicarinya. Dari kejauhan Nathan melihat Roby dan anggota lainnya memakai jaket Lazer's. Nathan segera menghampirinya.

"Dimana Bang Rion?" tanya Nathan langsung.

Roby yang sedang duduk didepan ruangan yang bertuliskan Nomor 218 itu mendongak dan menemukan Nathan didepannya. Cowok itu masih memakai seragam putih abu-abu dan dilapisi jaket Lazer's, Roby yakini setelah cowok itu mengabari Nathan, cowok itu langsung kemari.

"Ada di dalem," jawab Roby.

Tanpa basa-basi Nathan segera membuka pintu putih itu dan menemukan Rion yang sedang terkapar di ranjang rumah sakit. Tangan berserta kakinya diperban, tak lupa juga ada banyak bekas luka dan lebam di wajah Rion. Sudah dipastikan Rion dikeroyok orang.

Nathan mendekatinya. Rion belum membuka matanya, entah laki-laki itu sudah siuman atau hanya beristirahat saja. Tangan Nathan terkepal. Brengsek. Siapa yang berani menghabisi Rion sampai seperti ini.

Mungkin Rion menyadari ada orang yang datang kemari. Matanya terbuka dan menemukan Nathan disampingnya. Rion mencoba menggerakkan kepalanya sedikit demi sedikit ke kanan menghadap Nathan. Sungguh kondisi Rion cukup parah, menggerakkan kepalanya saja sulit, apalagi badannya.

"Nathan?" panggil Rion.

"Siapa yang udah mukulin lo sampai kayak gini Bang?" tanya Nathan to the point.

SAMUDERA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang