[ BEBERAPA CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ]
- Kembalinya pertemuan menyebabkan luka -
Ini tentang Shaquille Samudera Manggala. Ketua Geng motor D'Handzels. Ia mempunyai sahabat yang bernama Caramel Aqiella Jasmine.
Berawal dari ke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enjoyy read Samudera!♡ jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknyaa ya🔥
Tandai jika ada typo atau penulisan kata aku ga sempet baca ulang💫
Semoga suka sama part ini💜
– Happy Reading –
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sedih atau bahagianya masa lalu, ketika dirinya tidak mengharapkannya lagi, itu berarti kenangannya tidak harus sama seperti masa lalu bukan? — Shaquille Samudera Manggala.
59. Ungkapan Dari Sang Antagonis
TANGAN Zee bergetar hebat, matanya tak berkedip dan berkaca-kaca, satu kali saja Zee berkedip air mata itu akan membasahi pipinya yang tirus. Memori-memori kebersamaan dengan Samudera kian muncul dengan cepat membuat kepalanya sedikit merasakan sakit. Hatinya sakit terbelenggu menjadi satu antara sesak dan kecewa.
Ketiganya saling terdiam. Jasmin menunduk tak kuasa melihat Zee, serta banyak pertanyaan di kepalanya. Siapa Zee sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan dirinya?
Samudera mengeratkan tangannya di pinggang Jasmin seolah tidak membiarkan gadis di sampingnya pergi kemana-mana. Kini tangannya naik ke atas kepala Jasmin, mengusap lembut kepala gadis itu setelah terhantuk prosotan. Samudera tau Jasmin merasakan sakit.
"Sam?" Setelah berucap seperti itu Zee menangis tersedu-sedu. Beberapa kali memukul dadanya yang begitu sesak. Posisinya sekarang sudah jongkok tak kuasa menahan bobot di tubuhnya.
Jasmin menatap Zee dengan perasaan gamang. Kepalanya kini mendongak menatap Samudera, cowok itu masih menatap Zee dengan tatapan dingin, seolah tak acuh kepada Zee.
"Kita pulang, Je." Samudera tak memberikan Jasmin berbicara apapun. Tangannya dengan lembut menarik Jasmin pergi dari sana.
Zee menatap punggung keduanya dengan pilu. Semuanya telah hilang, rasa percaya dirinya, rasa memilikinya, rasa ketertarikannya, semuanya sudah hilang terbawa oleh kata-kata yang di hitung tidak sampai tiga detik.